Friday, July 1, 2011

Cerita Seks Gara Ngintip Aku Perawani Adik Angkatku

Cerita seks ini adalah sebuah cerita ngentot yang dialami oleh cewek cantik karena tikah dari sang kakak angkat yang suka dengan sex. Memang gara ngitip aku perawani adik angkatku yang sedang dikamar. Mungkin ini adalah salah satu kediadaban dari seorang kakak kepada adiknya dengan tanpa memangdang siapa dia. Saat sedang enak-enaknya mengerang, tiba-tiba kok hangatnya tidak di kepalanya saja. Kulihat ke bawah, “Astaga..!” Penisku diemut. Belum berfikir yang lain, tiba-tiba ada rasa aneh di penisku, ternyata selain diemut, Titin pun menghisapnya. Tak tahan akan gelinya, aku semakin mengerang. “Tiinnn.. aku kamu apaiiinn.. Tiinnn.. kamu kok tegaaa..” Tak berapa lama aku kepengin pipis. “Tiinnn.. udaaahh.. Mass mau pipisss..” Karena tidak tahan dan Titin tidak melepaskannya, akhirnya, “Croottt.. croottt.. croottt..” Empat atau lima kali penisku menembakkan cairannya di mulut Titin. Titin kaget sekali. Sebagian ada yang tertelan dan sebagian lagi meleleh keluar dari bibirnya.
“Mas Pri jahat.. pipis kok di mulut Titin..” katanya sambil berdiri dan mengelap mulutnya dengan kain jarik. Lalu dia minum air putih.
“Titin juga siihhh.. Mas bilang udah.. udah, tapi Titin nggak mau lepasin,” balasku.
“Udah sini tiduran. Mas kelonin,” sambungku.

Sambil kukelonin, kucium pipinya.
“Titin kok mau ngisep singkongnya Mas? Apa nggak jijik. Khan jorok,” pancingku.
“Lho, kata Mas kalau sayang kan nggak jijik.”
“Tadi pipis Mas gimana rasanya? Enaakk?”
“Enak Mas. Kayak santen tapi agak asin.”
“Titin belajar dari mana?”
“Waktu Titin ngintip, Titin liat Mbak Nunung ngisep tititnya Oom. Kayaknya Oom itu keenakan. Terus Titin mau Mas juga keenakan. Ya Titin ikut-ikutan Mbak Nunung.”
“Mas, Titin malu mau ngomong sama Mas.”
“Ngomong aja. Sama Mas kok malu.”
“Titin juga punya bacaan. Titin dapet sewaktu beli koran bekas untuk bungkus. Ada dua Mas. Yang satu Eni Arrow, yang satu Nick Carter.”
“Sewaktu Titin baca, badan Titin merinding semua. Terus susu sama tempek Titin jadi gatel.”
Ooohh pantes dia cepet belajar. Dari situ toh sumbernya. Ditambah live show.

Selama kelonan, dadanya menghimpit dadaku. Terasa hangat dan kenyal. Lama-lama penisku keras lagi. Kucium pipi dan bibirnya lagi. Dia pun menyambutnya dengan mesra. Kami berciuman, bergulingan. Tanganku pun mulai bergerilya lagi. Ke susunya, punggungnya, lehernya, selangkangannya. Akhirnya tangan kananku berhenti di daging lunak di selangkangannya. Aku mulai mengusap-usap klitorisnya. Dia makin mendesah-desah nggak karuan. “Aaahh.. Maaass.. Titin sayang sama Mas Pri.. shhh.. aaahh.. enak Masss.. teruuuss Masss..” Sementara tangannya mulai meremas-remas punyaku. Penisku sudah pada puncaknya sekarang.

Tiba-tiba Titin melepaskan pelukannya.
“Masss.. Titin mau seperti Mbak Nunung.. Mas mau khaaann..” katanya sambil menatap mataku.
Ada permintaan tulus di sana, ada gelora di sana, ada sesuatu yang aneh di sana.
“Tapi Mas takuutt.. Nanti gimana? Kita khan belum pernah..”
“Tapi Titin mau Masss..” katanya lagi.
Lalu penisku diusap-usapkan ke mulut vaginanya yang sudah basah.
“Aaahh.. sshhh..” dia mendesah.

Mendengar desahannya, aku mulai bertindak. Kukangkangkan pahanya, terlihatlah vaginanya yang tembem dengan rambut halus dan jarang, bagian dalamnya yang merah muda dan ada tonjolan daging sebesar kacang kedele. Vaginanya ternyata sudah basah sekali. Merah berkilat-kilat. Kusentuh kacang kedele itu.
“Aaccchh.. Masss.. ssshh..”
Oh, jadi ini toh yang bikin dia menggelinjang itu. Kusentuh lagi.
“Aaccchh.. Masss.. ssshh.. diapain siiicchh Mas.. nakal amat siihh..” desahnya.
Kudekatkan wajahku supaya bisa melihat lebih jelas. Bentuknya lucu sekali. Aku coba menjilatnya.
“Aaacchh.. Masss..”
“Ayooo.. doonnngg.. Mass.. cepetannn..” katanya tak sabar.

Kuarahkan kepala penisku ke mulut vaginanya, kutekan sedikit.
“Aaahh..” ada rasa hangat di kepala penisku. Kutekan sedikit. Kok mentok? Kutekan lagi. Mentok lagi.
“Tin, lubangnya yang mana?” tanyaku.
“Agak ke bawah sedikit Mass, di bawah yang Mas pegang tadi.”
Kuperhatikan dengan seksama. Oh, itu toh lubangnya. Kok kecil sekali? Apa punyaku bisa masuk?Kuarahkan penisku ke sana, kutekan. Kok melesat. Coba lagi. Meleset lagi.
“Tiinn.. bantuin doonngg..”
Titin memegang penisku lalu mengarahkannya.
“Teken Mas.. ya.. ya.. di situ teken Mas.”
Kutekan pelan-pelan. Kok meleset? Tekan lagi meleset lagi. Gimana sich caranya? Kupegang erat-erat penisku lalu tekan agak keras. Dan..

“Aaa.. Maasss sakiiitt. Pelan-pelan dooong Maaass..”
Terasa kepala penisku terjepit sesuatu yang hangat.
“Tahan Mas.. tahan..”
Dia meringis sepertinya menahan sesuatu.
“Ayo teken lagi Mass.. pelan-pelan Masss.. aaahh..”
Kutekan perlahan-lahan dengan kekuatan penuh. “Aaahh..” Kepala penisku terasa ngilu. Hangat. Kulihat sudah separuhnya tertancap, Titin meringis, kutahan sebentar.

Setelah Titin terlihat tenang, dengan tiba-tiba kutekan penisku sekuat tenaga, “Blesss.. bret..”
“Aaawww.. sakiittt Masss.. tahan Mass.. diem dulu Masss..” Titin berteriak.
Lalu kutahan. Ujung penisku seperti menyentuh sesuatu yang hangat. Aduh, rasanya seluruh penisku seperti terjepit oleh sesuatu yang hangat dan berkedut-kedut. Rasanya linu, sakit, enak, semuanya jadi satu.

“Tiinnn.. tahan sedikit ya..” kataku.
Lalu aku menarik pantatku dan menekannya secara perlahan-lahan. Berulang kali. Kulihat Titin meringis-ringis. Begitu juga aku ikut meringis. Tapi kami sama-sama tidak mau berhenti.Setelah mungkin ada sekitar 15 kali naik turun, vagina Titin mulai agak licin. Dan Titin pun mulai tidak meringis lagi.
“Ayoo.. Mass.. ayoo Mas.. enak.. aaduuuhh enaaakkk Masss.. aaacchh.. ssshh..”
Aku pun merasa sudah tak begitu linu lagi.
“Ayooo Mass.. yang cepet Mass.. yang dalem Masss.. Sshhh.. aaacch..”

Mendengar desahan itu aku makin cepat memompa penisku naik turun. Makin cepat, secepat aku bisa. Titin kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tangannya memegang sisi dipan. Susunya bergoyang-goyang. Badannya basah oleh keringat begitu juga rambutnya. Pantatnya yang tadi diam, sekarang mulai bergoyang. Naik, turun, kiri dan kanan. Tak lama aku merasa penisku semakin linu dan geli yang tak tertahan, dan terasa ada sesuatu yang mau keluar. Tapi aku merasakan tak ingin berhenti memompa.

Tiba-tiba Titin merangkulku dengan keras, menggigit pundakku. “Aaahh.. Aaauuw.. Aku pipiiss.. Masss..” Aku yang juga merasa mau pipis, kutekan sekuat tenaga penisku sampai mentok dan kutahan. “Samaaa.. Massss juga pipisss.. aaacchh..” dan, “Crooott.. crooott.. crooottt..” Empat kali penisku menyembur ke vagina Titin. Aku tergolek lemas di atas tubuh Titin. Tubuh kami sama-sama banjir oleh keringat. Kami diam beberapa saat. Penisku sudah lemas tapi masih tertancap di vaginanya.

Setelah mengatur nafas masing-masing, Titin berbisik, “Terima kasih banyak Mas.. bukan main.. Masss.. enak banget ya Maaass..”
“Eee.. Tiiinnn.. jangan gerak dulu. Masih linuuu..” desahku.
Karena tak tahan kucabut punyaku, dan aku tergolek di sebelahnya.
“Pantesan aja Mbak Nunung sering beginian. Nggak taunya enak banget.” desahku setelah bisa mengendalikan diri.

Tiba-tiba kami sadar bahwa ada tugas yang harus kukerjakan. Aku langsung bangun. Dan kulihat ada bercak-bercak kemerahan di dipan Titin dekat selangkangannya.
“Tiinnn.. punya kamu berdarah ya.. masih sakit..?”
“Sedikit Mas.. Linunya ini yang belum hilang.”
“Udaahh bangun aja. Nanti siapa tahu ilang sendiri.” kataku.

Lalu kubantu dia bangun, mengelap dipan dengan kain basah sambil melirik jam beker. Ya ampun 2 jam lebih aku bergelut dengan Titin. Setelah dia berpakaian, kubantu dia merendam cucian sementara dia mencuci beras. Dia mencuci baju, aku memotong-motong ubi dan singkong. Karena sudah hampir terlambat, kami mandi bareng berdua. Di dalam kamar mandi itu kami saling ciuman lagi, saling meremas lagi.

Sesampainya di warung, ibuku bertanya, “Titin Kenapa, kok jalannya agak pincang?”
“Terpeleset waktu nyuci baju Bu..” aku yang yang menyahut.
Memang Titin jalannya agak sedikit pincang. Siang itu kami sekolah bergandengan tangan seakan tak mau dipisahkan.

Malam harinya saat belajar, Titin datang lagi. Kali ini sebelum belajar kami bercumbu dulu.
“Tiinnn.. maafin Mas ya.. Mas khilaf.. Mas sudah mengambil keperawanan Titin.”
“Nggak Mass, Titin dong yang seharusnya minta maaf. Khan Titin yang minta. Mas nyesel ya.. perjaka Mas udah ilang?”
“Lho, yang seharusnya nyesel itu khan yang perempuan bukan laki-laki.”
“Tapi Titin nggak nyesel sama sekali, malah bangga bisa ngasih sama Mas.”
“Sekarang Titin nggak mau pisah sama Mass.. Titin mau sama Mas terus.. Dan Titin janji nggak mau sama yang lain selain Mas.” sambungnya lagi.
Kok air matanya netes? kucium dia dengan lembut.
“Terima kasih Tin.. Mas juga janji. Mas juga nggak mau dengan orang lain selama ada Titin.”
Dia memelukku lama sekali. Seakan tidak mau dipisahkan.

Aku sekarang sudah terbiasa kalau sedang mencium, tanganku mengelus-elus punggungnya, lalu meremas-remas dadanya. Eh, dia nggak pake kaos lagi. “Aaahh.. Masss..” dia mendesis. Tanganku mulai turun ke arah bongkahan pantatnya, kuremas-remas. Desahannya semakin keras saja. Tangganya pun mulai masuk ke dalam sarung. Mulai memegang sesuatu yang mulai mengeras. “Mass.. Titin mau lagi doonng..” Busyet, ini anak sepertinya maniak banget.

Beberapa saat kemudian kulepaskan daster dan celana dalamnya. Dia pun menurunkan sarung dan celana dalamku, lalu kaosku. Bugillah kami berdua. Kukecup lehernya sambil kuremas-remas dadanya. Kupuntir putingnya, dia mendesah. “Ssstt.. jangan berisik dong.. nanti Ibu bangun..” dia pun mengecilkan suaranya. Hanya mulutnya yang meringis-ringis saja. Tangannya tidak tinggal diam. Mulai menggenggam penisku dan mengocok dengan perlahan. “Mass.. kuhisap yaa..” katanya.

Lalu dia berbalik arah. Mulutnya yang mungil mulai menjilati kepala penisku. Seperti ada tegangan tinggi yang mengalir di tubuhku. “Aaahh.. Tiiinn..” desahku perlahan saat dia mulai mengulum kepala penisku. Sementara itu vaginanya ada di depanku. Posisi 69 kata orang. Kucium aromanya. Aaahh segarnya. Mulailah lidahku menjelajah ke lubang yang merah membasah. Kucari kacang kedelenya dengan lidahku. Setiap kujilat kedelenya, hisapan di penisku terhenti. Cairan vaginanya makin lama makin banyak.

Tiba-tiba dia berbalik dan terlentang, sambil menarik penisku ke vaginanya.
“Auwww.. pelan-pelan dong Tiinn.. Sakit khan..” kataku karena penisku ditarik.
“Cepetan doongg.. Masss.”

Kemudian kupegang penisku, kuarahkan ke vaginanya, kugesek-gesekkan di pintunya.
“Aaahh.. Masss.. jangan nakal doong.. cepetan..”
Kutekan perlahan-lahan. Masuk kepalanya, masih agak linu rasanya.
“Aahhh.. ssshh..” dia mengerang keenakan.
“Pelan-pelan Mass..”
Kutekan perlahan sekali. Takut dia kesakitan seperti tadi siang. Dia meringis. Kutahan, tarik sedikit, tekan lagi pelan-pelan, tarik lagi sedikit, tekan pelan-pelan. Mili demi mili penisku mulai ditelan oleh vaginanya yang amat sempit.

Setelah semuanya masuk, kudiamkan sebentar sambil menikmati sensasi yang ada. Sekarang seluruh penisku seperti dipijat-pijat.
“Tiinnn.. Mas sayaaang banget sama Titin..” kubisikkan di telinganya.
“Iii..iiyyaaa.. Maaass.. aahhh.. Masss..” katanya sambil mecium bibirku.
Kami lalu berciuman. Saling mengadu lidah.

Lalu kunaik-turunkan pantatku pelahan. Kuresapi setiap garakanku. Tiba-tiba Titin memelukku. Dia berguling sehingga posisinya ada di atasku.
“Maasss.. Titin mau di atas..”
“Iiiyaa tapi pelan-pelan Tiinn.. nanti Ibu banguunn..”
Rupanya dia ingin tahu gimana rasanya di atas. Dia jongkok sambil melihat ke selangkangannya, lalu naik turun pelahan-lahan. Wajahnya merah padam.

Lama-lama dia semakin cepat naik turunnya. Dadanya berguncang-guncang.
“Aaacchh.. ooohh.. Maaass.. Ooohh..”
“Ayooo.. Tiinnn dicepetiinnn.. ayooo.. ssshh..”
Kuremas-remas kedua susunya. Keringatnya sudah di sekujur tubuhnya.

Kira-kira 10 menit kemudian dia menjepitkan kedua pahanya. Tangannya menjambak rambutku. “Maaass.. Tiitiiinn.. piipiiiss..”
Terasa ada cairan hangat menyembur di kepala penisku. Bersamaan dengan itu aku merasa ada yang mau keluar dari penisku. Kubalikkan dia, lalu kugenjot sekuatku.
“Maasss.. udaaahh.. geliii.. aduuhh..”
Aku tidak peduli. Kugenjot terus. Sampai akhirnya, “Tiinnn.. Maasss juugaaa.. pipiisss..”
Dan, “Crooott.. crroottt..” Kusemprotan maniku 3 kali berturut-turut ke vaginanya. “Aaahhh..”

Kucabut penisku dan aku tergolek lemas di sebelahnya. Bukan main, setelah sensasi dahsyat tadi mereda, kucium dia.
“Terima kasiihhh.. yaaa Tiiinn..”
“Aaahhh.. Masss..”
Kami tidur berpelukan berdua sampai kami terbangun karena badan kami dingin karena tidak memakai selimut. Lalu kami berpakaian, mencium pipiku, kuantar sampai pintu rumahnya.
Ah.. perjakaku hilang diumur 13 tahun.

Sejak saat itu Titin kalau datang belajar pasti tidak memakai kaos dalam atau BH. Karena Titin sejak kelas 2 SMP sudah memakai BH. Malu sama teman katanya. Bahkan kalau sudah kepingin dia datang tanpa mengenakan celana dalam. Kami melakukannya siang dan malam. Kadang di rumahku atau di rumahnya. Paling sering di rumahnya. Berbagai posisi sudah kami lakukan. Berdiri, sambil duduk (dia kupangku menghadapku), dia di atas, model anjing. Kecuali kalau saat dia mens, atau saat bapaknya di rumah. Itupun dia masih rela mengemut punyaku.

Ketika terdengar kabar bahwa Tapol G30S PKI dibebaskan, aku menemani ibuku mencari bapakku ke kota Bandung. Tidak ketemu. Di Jogya, di rumah keluarganya juga tidak ditemukan. Apa bapakku sudah tiada? Padahal pada daftar orang-orang yang dibebaskan tercantum nama bapakku, dibebaskan di Bandung.

Pada suatu sore, saat itu ibuku sedang shalat maghrib, ada seseorang dengan pakaian lusuh dan tampang sedih mampir ke warungku meminum kopi dan makan pisang goreng. Kuperhatikan dia sering melamun dan pandangannya kosong. Kuperhatikan lebih seksama lagi. Sepertinya aku pernah mengenalnya. Tapi dimana?

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh teriakan ibuku.
“Maasss..” teriak ibuku.
Rupanya ibuku sudah lama memperhatikan pria itu selagi minum kopi. Orang itupun kaget. Setelah saling pandang beberapa saat, mereka saling berpelukan erat. Ibuku menangis meraung-raung. Aku bingung harus berbuat apa. Aku diam saja.

“Mass itu anakmu yang kukandung dulu saat Mas pergi. Sini Pri kasih salam sama Bapakmu,” kata ibuku. Kucium tangannya lalu kami bertangisan bertiga. Tangisan bahagia. Aku bahagia sekali. Aku sekarang ditemani bapakku. Orang yang dulu sangat kudambakan. Tapi akibatnya hubungan dengan Titin jadi tidak sebebas dulu lagi. Kami harus curi-curi waktu untuk bersama-sama pada saat bapakku mencari kerja sebagai tukang kayu atau saat bapak dan ibuku jaga warung berdua.Akhirnya bapakku memutuskan untuk membesarkan warung saja.

Keadaan itu berakhir ketika pemilik kontrakan datang dan memberitahukan bahwa kontrakan akan dijual 3 bulan lagi. Orang tuaku pindah kontrakan tak jauh dari tempat semula, sedangkan Titinku pindah ke Ciamis.

Sebelum perpisahan, Titin memberiku servise yang tak terlupakan. Kami bergumul di kebun selama kurang lebih tiga jam. Kenangan yang takkan terlupakan.
Selamat jalan Titinku…




Sumber
readmore »»  

Cerita Panas Kenikmatan Bercinta Dengan Lia dan Teman Temannya

Cerita sex ini adalah sebuah cerita yang memang baru sekali di mata pembaca semuanya karena selain baru saja diluncurkan cerita ngentot kali ini merupakan sebuah cerita terbaru yang diangkat untuk pembaca semuanya. Bagi kalian semuanya yang memang suka sekali dengan cerita ini bisa langsung reques lewat komentar maupun bisa via inbox. Kali ini ada sebuah cerita yang merupakan ada sebuah peran dari anak muda yang memang kehausan sex dan langsung berpesta seks bersama teman temanya yang memang sebangku sekolah dengan teman lelaki yang saling berpasangan satu dengan lainya. Kali ini ada yang menambjubkan sekali karena pesta seks anak muda adalah sebuah hal yang memang sangat baru sekali di bandingkan dengan anak jaman dahulu yang jangan banget membaca cerita maupun dari video yang memang sudah di jual belikan itu. Jadi kali ini ada pesta yang sedang dilakukan di salah satu hotel kelas dan bersama sama mereka ngentot bergantian satu sama lainya wah tidak membaca cerita kali ini pasti rugi karena memang sangat heboh sekali. Mari kita baca,Cerita ini bermula ketika aku berumur 32 tahun, aku waktu itu sudah bekerja sebagai kepala bagian di sebuah perusahaan BUMN, penghasilanku lebih dari cukup. Apapun bisa kupenuhi, hanya satu yang belum dapat kuraih, yaitu kebahagiaan keluarga, atau dengan kata lain punya istri dan punya anak. Aku hidup sebagai bujangan, kadang untuk memenuhi hasrat biologisku, aku mencarter wanita malam yang kesepian.

Ketika itu aku masih kost di kota A, kota yang indah dan tidak terlalu ramai, sebab di kota A itulah aku bekerja. Aku kost di rumah seorang ibu muda dengan satu anak gadisnya. Sebut saja ibu muda itu adalah Tante Linda, dan anak gadisnya yang masih 12 tahun usianya dan duduk di bangku SMP kelas 1, namanya Lia. Suami Tante Linda, sebut saja Oom Joko bekerja di ibukota, di suatu instansi pemerintah, dan mempunyai jabatan strategis. Setiap 2 minggu sekali, Oom Joko pulang ke kota A, aku sendiri cukup akrab dengan Oom Joko, umurku dengannya tidak terlalu terpaut jauh. Oom Joko aku taksir baru berumur sekitar 35 tahun, sedangkan Tante Linda justru lebih tua sedikit, 37 tahun. Aku menyebut mereka Oom dan Tante, sebab walaupun beda umur antara aku dan mereka sedikit, tetapi mereka sudah berkeluaga dan sudah punya seorang anak gadis.

Tante Linda merupakan seorang sekretaris di sebuah perusahaan otomotif di kota B yang jaraknya tidak begitu jauh dari kota A. Tante Linda berangkat pagi dan pulang malam, begitu seterusnya setiap harinya, sehingga aku kurang begitu dekat dengan Tante Linda. Justru kepada anak gadisnya yang masih SMP yang bernama Lia, aku merasa dekat. Sebab pada hari-hari kosongku, Lia lah yang menemaniku.

Selama tinggal serumah dengan Tante Linda dan anak gadisnya, yaitu Lia, aku tidak pernah berpikiran buruk, misalnya ingin menyetubuhi Tante Linda atau yang lainnya. Aku menganggapnya sudah seperti kakak sendiri. Dan kepada Lia, aku juga sudah menganggapnya sebagai keponakanku sendiri pula. Sampai akhirnya ketika suatu hari, hujan gerimis rintik-rintik, pekerjaan kantor telah selesai aku kerjakan, dan saat itu hari masih agak siang. Aku malas sekali ingin pulang, lalu aku berpikir berbuat apa di hari seperti ini sendirian. Akhirnya aku putuskan meminjam kaset VCD Blue Film yang berjudul Tarzan X ke rekan kerjaku. Kebetulan dia selalu membawanya, aku pinjam ke dia, lalu aku cepat-cepat pulang. Keadaan rumah masih sangat sepi, sebab Lia masih sekolah, dan Tante Linda bekerja. Karena aku kost sudah cukup lama, maka aku dipercaya oleh Oom Joko dan Tante Linda untuk membuat kunci duplikat. Jika sewaktu-waktu ada perlu di rumah, jadi tidak harus repot menunggu Lia pulang ataupun Tante Linda pulang.

Aku sebetulnya ingin menyaksikan film tersebut di kamar, entah karena masih sepi, maka aku menyaksikannya di ruang keluarga yang kebetulan tempatnya di lantai atas. Ah.. lama juga aku tidak menyaksikan film seperti ini, dan memang lama juga aku tidak ML (making love) dengan wanita malam yang biasa kupakai akibat stres karena kerjaan yang tidak ada habis-habisnya.

Aku mulai memutar film tersebut, dengan ukuran TV Sony Kirara Baso, seakan aku menyaksikan film bioskop, adegan demi adegan syur membuatku mulai bernafsu dan membuat batang kemaluanku berontak dari dalam celanaku. Aku kasihan pada adik kecilku itu, maka kulepaskan saja celanaku, kulepaskan juga bajuku, sehingga aku hanya menggunakan kaos singlet ketat saja. Celana panjang dan celana dalamku sudah kulepaskan, maka mulai berdiri dengan kencang dan kokohnya batang kemaluanku yang hitam, panjang, besar dan berdenyut-denyut. Aku menikmatinya sesaat, sampai akhirnya kupegangi sendiri batang kemaluanku itu dengan tangan kananku. Mataku tetap konsentrasi kepada layar TV, melihat adegan-adegan yang sudah sedemikian panasnya. Tarzan yang bodoh itu sedang diajari oleh wanitanya untuk memasukkan batang kemaluannya itu ke lubang kemaluan si wanita.

Batang kemaluan yang dari tadi kupegangi, kini telah kukocok-kocok, lambat dan cepat silih berganti gerakanku dalam mengocok. Setelah sekian lama, aku merasa sudah tidak kuat lagi menahan cairan mani yang ingin keluar.

Lalu, “Ahh… crrrottt.. cccroottt…,” aku sudah menyiapkan handuk kecil untuk menampung cairan mani yang keluar dari lubang kencing kemaluanku. Sehingga cairan itu tidak muncrat kemana-mana.

Ternyata tanpa sepengetahuanku, ada sepasang mata melihat ke arahku dengan tidak berkedip, sepasang mata itu rupanya melihat semua yang kulakukan tadi. Aku baru saja membersihkan batang kemaluanku dengan handuk, lalu sepasang mata itu keluar dari persembunyiannya, sambil berkata kecil.

“Oom Agus, lagi ngapain sih, kok main-main titit begitu, emang kenapa sih?” kata suara kecil mungil yang biasa kudengar.

Bagaikan disambar geledek di siang hari, aku kaget, ternyata Lia sudah ada di belakangku. Aku gugup akan bilang apa, kupikir anak ini pasti sudah melihat apa yang kulakukan dari tadi.
“Eh, Llliiiiaaa.. baru pulang?” sahutku sekenanya.
“Iya nih Oom, ngga ada pelajaran.” tukas Lia, lalu Lia melanjutkan perkataannya, “Oom Agus, Lia tadi kan nanya, Oom lagi ngapain sih, kok mainin titit gitu?”
“Oohh ini..,” aku sudah sedikit bisa mengontrol diri, “Ini.. Oom habis melakukan olahraga , Lia.”
“Ooohh.. habis olahraga yaaa..?” Lia sedikit heran.
“Iya kok.. olahraga Oom, ya begini, sama juga dengan olahraga papanya Lia.” jawabku ingin meyakinkan Lia.
“Kalo olahraga Lia di sekolah pasti sama pak guru Lia disuruh lari.” Lia menimpali.
“Itu karena Lia kan masih sekolah, jadi olahraganya harus sesuai dengan petunjuk pak guru.” jawabku lagi.
“Oom, Lia pernah lihat papa juga mainin titit persis seperti yang Oom Agus lakukan tadi, cuma bedanya papa mainin tititnya sama mama.” Lia dengan polosnya mengatakan hal itu.
“Eh, Lia pernah lihat papa dan mama olahraga begituan?” aku balik bertanya karena penasaran.
“Sering lihat Oom, kalo papa pulang, kalo malem pasti melakukannya sama mama.” ujar Lia masih dengan polosnya menerangkan apa yang sering dilihatnya.
“Seperti ini yaa..?” sambil aku menunjuk ke cover gambar film Tarzan X, gambar Tarzan dengan memasukkan batang kemaluannya ke lubang kelamin wanitanya.
“Iya Oom, seperti apa yang di film itu lho!” jawab Lia, “Eh.. Oom, bagus lho filmnya, boleh ngga nih Lia nonton, mumpung ngga ada mama?”
“Boleh kok, cuma dengan syarat, Lia tidak boleh mengatakan hal ini sama papa dan mama, oke?” aku memberi syarat dengan perasaan kuatir jika sampai Lia cerita pada mama dan papanya.
“Ntar Oom beliin coklat yang banyak deh.” janjiku.
“Beres Oom, Lia ngga bakalan cerita ke mama dan papa.” dengan santai Lia menjawab perkataanku, rupanya Lia langsung duduk di sofa menghadap ke TV.
Kuputar ulang lagi film Tarzan X tersebut, dan Lia menontonnya dengan sepenuh hati, adegan demi adegan dilihatnya dengan penuh perhatian. Aku sendiri termenung menyaksikan bahwa di depanku ada seorang gadis kecil yang periang dan pintar sedang menonton blue film dengan tenangnya. Sedangkan aku sendiri masih belum memakai celanaku, ikut melihat lagi adegan-adegan film Tarzan X itu, membuat batang kemaluanku tegang dan berdiri kembali, kubiarkan saja. Lama kelamaan, aku tidak melihat ke arah film Tarzan X itu, pandanganku beralih ke sosok hidup yang sedang menontonnya, yaitu Lia.

Lia adalah yang tergolong imut dan manis untuk gadis seusianya. Entah kenapa, aku ingin sekali bersetubuh dengan Lia, aku ingin menikmati rasanya lubang kelamin Lia, yang kubayangkan pastilah masih sangat sempit. Ahhh.. nafsuku kian membara karena memikirkan hal itu. Aku mencoba mencari akal, bagaimana caranya agar keperawanan Lia bisa kudapatkan dan kurasakan. Kutunggu saja waktu tepatnya dengan sabar. Tidak terasa, selesailah film tersebut. Suara Lia akhirnya memecahkan keheningan.
“Oom, tuh tititnya berdiri lagi.” kata Lia sambil menunjuk ke arah batang kemaluanku yang memang sedang tegang.

“Iya nih Lia, tapi biarin saja deh, gimana dengan filmnya?” jawabku santai.
“Bagus kok Oom, persis seperti apa yang papa dan mama lakukan, dan Lia ada beberapa pertanyaan buat Oom nih.” Lia sepertinya ingin menanyakan sesuatu.
“Pertanyaannya apa?” tanyaku.

“Kenapa sih, kalo olahraga gituan harus masukin titit ke… apa tuh, Lia ngga ngerti?” tanya Lia.

“Oh itu.., itu namanya titit dimasukkan ke lubang kencing atau disebut juga lubang memek, pasti papa Lia juga melakukan hal itu ke mama kan?” jawabku menerangkan.
“Iya benar Oom, papa pasti masukin tititnya ke lubang yang ada pada memek mama.” Lia membenarkan jawabanku.

“Itulah seninya olahraga beginian Lia, bisa dilakukan sendiri, bisa juga dilakukan berdua, olahraga ini khusus untuk dewasa.” kataku memberi penjelasan ke Lia.
“Lia sudah boleh ngga Oom.. melakukan olahraga seperti itu?” tanya Lia lagi.
Ouw.. inilah yang aku tunggu.. dasar rejeki.. selalu saja datang sendiri.
“Boleh sih, dengan satu syarat jangan bilang sama mama dan papa.” jelasku.
Terang saja aku membolehkan, sebab itulah yang kuharapkan.

“Lia harus tahu, jika Lia melakukan olahraga beginian akan merasa lelah sekali tetapi juga akan merasakan enak.” tambahku.

“Masa sih Oom? Tapi kayaknya ada benarnya juga sih, Lia lihat sendiri mama juga sepertinya merasa lelah tapi juga merasa keenakan, sampai menjerit-jerit lho Oom, malahan kadang seperti mau nangis.” Lia yang polos rupanya sudah mulai tertarik dan sepertinya ingin tahu bagaimana rasanya.

“Emang gitu kok. Ee…, mumpung masih siang nich, mama Lia juga masih lama pulangnya, kalo Lia memang ingin olahraga beginian, sekarang saja gimana?” aku sudah tidak sabar ingin melihat pesona kemaluannya Lia, pastilah luar biasa.
“Ayolah!” Lia mengiyakan.

Memang rasa ingin tahu anak gadis seusia Lia sangatlah besar. Ini adalah hal baru bagi Lia. Segera saja kusiapkan segala sesuatunya di otakku. Aku ingin Lia merasakan apa yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kaos singlet yang menempel di tubuhku telah kulepas. Aku sudah telanjang bulat dengan batang kejantananku mengacung-ngacung keras dan tegang. Baru pernah seumur hidupku, aku telanjang di hadapan seorang gadis belia berumur 12 tahun. Lia hanya tersenyum-senyum memandangi batang kemaluanku yang berdiri dengan megahnya. Mungkin karena kebiasaan melihat papa dan mamanya telanjang bulat, sehingga melihatku telanjang bulat merupakan hal yang tidak aneh lagi bagi Lia.
Kusuruh Lia untuk membuka seluruh pakaiannya. Awalnya Lia protes, tetapi setelah kuberitahu dan kucontohkan kenapa mama Lia telanjang bulat, dan kenapa ceweknya Tarzan juga telanjang bulat, sebab memang sudah begitu seharusnya. Akhirnya Lia mau melepas pakaiannya satu persatu. Aku melihat Lia melepaskan pakaiannya dengan mata tidak berkedip. Pertama sekali, lepaslah pakaian sekolah yang dikenakannya, lalu rok biru dilepaskan juga. Sekarang Lia tinggal mengenakan kaos dalam dan celana dalam saja.
Di balik kaos dalamnya yang cukup tebal itu, aku sudah melihat dua benjolan kecil yang mencuat, pastilah puting susunya Lia yang baru tumbuh. Baru saja aku berpikiran seperti itu, Lia sudah membuka kaos dalamnya itu dan seperti apa yang kubayangkan, puting susu Lia yang masih kuncup, membenjol terlihat dengan jelas di kedua mataku. Puting susu itu begitu indahnya. Lain sekali dengan yang biasa kulihat dan kurasakan dari wanita malam langgananku, rata-rata puting susu mereka sudah merekah dan matang, sedangkan ini, aku hanya bisa menelan ludah.

Payudara Lia memang belum nampak, sebab karena faktor usia. Akan tetapi puting susunya sudah mulai menampakkan hasilnya. Membenjol cukup besar dan mencuat menantang untuk dinikmati. Warna puting susu Lia coklat kemerahan, aku melihat puting susu itu menegang tanpa Lia menyadarinya. Lalu Lia melepaskan juga celana dalamnya. Kembali aku dibuatnya sangat bernafsu, kemaluan Lia masih berupa garis lurus, seperti kebanyakan milik anak-anak gadis yang sering kulihat mandi di sungai. Vagina yang belum ditumbuhi bulu rambut satu pun, masih gundul. Aku sungguh-sungguh melihat pemandangan yang menakjubkan ini. Terbengong-bengong aku dibuatnya.

“Oom, udah semua nih, udah siap nih Oom.”
Aku tersentak dari lamunan begitu mendengar Lia berbicara.
“Oke, sekarang dimulai yaaa…?”

Kuberi tanda ke Lia supaya tiduran di sofa. Pertama sekali aku meminta ijin ke Lia untuk menciuminya, Lia mengijinkan, rupanya karena sangat ingin atau karena Lia memang sudah mulai menuruti nafsunya sendiri, aku kurang tahu. Yang penting bagiku, aku merasakan liang perawannya dan menyetubuhinya siang ini.

Aku ciumi kening, pipi, hidung, bibir dan lehernya. Kupagut dengan mesra sekali. Kubuat seromantis mungkin. Lia hanya diam seribu bahasa, menikmati sekali apa yang kulakukan kepadanya.

Setelah puas aku menciuminya, “Lia, boleh ngga Oom netek ke Lia?” tanyaku meminta.
“Tapi Oom, tetek Lia kan belon sebesar seperti punya mama.” kata Lia sedikit protes.
“Ngga apa-apa kok Lia, tetek segini malahan lebih enak.” kilahku meyakinkan Lia.
“Ya deh, terserah Oom saja, asalkan ngga sakit aja.” jawab Lia akhirnya memperbolehkan.

“Dijamin deh ngga sakit, malahan Lia akan merasakan enak dan nikmat yang tiada tara.” jawabku lagi.

Segera saja kuciumi puting susu Lia yang kiri, Lia merasa geli dan menggelinjang-gelinjang keenakan, aku merasakan puting susu Lia mulai mengalami penegangan total. Selanjutnya, aku hisap kedua puting susu tersebut bergantian. Lia melenguh menahan geli dan nikmat, aku terus menyusu dengan rakusnya, kusedot sekuat-kuatnya, kutarik-tarik, sedangkan puting susu yang satunya lagi kupelintir-pelintir.

“Oom, kok enak banget nihhh… oohhh… enakkk…” desah Lia keenakan.
Lia terus merancau keenakan, aku sangat senang sekali. Setelah sekian lama aku menyusu, aku lepaskan puting susu tersebut. Puting susu itu sudah memerah dan sangat tegangnya. Lia sudah merasa mabuk oleh kenikmatan. Aku bimbing tangannya ke batang kemaluanku.

“Lia, kocok dong tititnya Oom Agus.” aku meminta Lia untuk mengocok batang kemaluanku.

Lia mematuhi apa yang kuminta, mengocok-ngocok dengan tidak beraturan. Aku memakluminya, karena Lia masih amatir, sampai akhirnya aku justru merasa sakit sendiri dengan kocokan Lia tersebut, maka kuminta Lia untuk menghentikannya. Selanjutnya, kuminta Lia untuk mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, tanpa bertanya Lia langsung saja mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, aku terpana sesaat melihat vagina Lia yang merekah. Tadinya kemaluan itu hanya semacam garis lurus, sekarang di hadapanku terlihat dengan jelas, buah klitoris kecil Lia yang sebesar kacang kedelai, vaginanya merah tanpa ditumbuhi rambut sedikit pun, dan yang terutama, lubang kemaluan Lia yang masih sangat sempitnya. Jika kuukur, hanya seukuran jari kelingking lubangnya.

Aku lakukan sex dengan mulut, kuciumi dan hisap kemaluan Lia dengan lembut, Lia kembali melenguh. Lenguhan yang sangat erotis. Meram melek kulihat mata Lia menahan enaknya hisapanku di kemaluannya. Kusedot klitorisnya. Lia menjerit kecil keenakan, sampai tidak berapa lama.
“Oom, enak banget sih, Lia senang sekali, terussinnn…” pinta Lia.
Aku meneruskan menghisap-hisap vagina Lia, dan Lia semakin mendesah tidak karuan. Aku yakin Lia hampir mencapai puncak orgasme pertamanya selama hidup.
“Oommm… ssshhh… Lia mau pipis nich..”

Lia merasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar, seperti ingin kencing.
“Tahan dikit Lia… tahan yaaa…” sambil aku terus menjilati, dan menghisap-hisap kemaluannya.

“Udah ngga tahan nich Oommm… aahhh…”
Tubuh Lia mengejang, tangan Lia berpegangan ke sofa dengan erat sekali, kakinya menjepit kepalaku yang masih berada di antara selangkangannya.
Lia ternyata sudah sampai pada klimaks orgasme pertamanya. Aku senang sekali, kulihat dari bibir lubang perawannya merembes keluar cairan cukup banyak. Itulah cairan mani nikmatnya Lia.

“Oohhh… Oom Agus… Lia merasa lemes dan enak sekali… apa sih yang barusan Lia alami, Oom…?” tanya Lia antara sadar dan tidak.

“Itulah puncaknya Lia.., Lia telah mencapainya, pingin lagi ngga?” tanyaku.
“Iya.. iya.. pingin Oom…” jawabnya langsung.

Aku merasakan kalau Lia ingin merasakannya lagi. Aku tidak langsung mengiyakan, kusuruh Lia istirahat sebentar, kuambilkan semacam obat dari dompetku, obat dopping dan kusuruh Lia untuk meminumnya. Karena sebentar lagi, aku akan menembus lubang perwannya yang sempit itu, jadi aku ingin Lia dalam keadaan segar bugar.
Tidak berapa lama, Lia kulihat telah kembali fit.

“Lia… tadi Lia sudah mencapai puncak pertama, dan masih ada satu puncak lagi, Lia ingin mencapainya lagi kan..?” bujukku.

“Iya Oom, mau dong…” Lia mengiyakan sambil manggut-manggut.
“Ini nanti bukan puncak Lia saja, tetapi juga puncak Oom Agus, ini finalnya Lia” kataku lagi menjelaskan.

“Final?” Lia mengernyitkan dahinya karena tidak paham maksudku.
“Iya, final.., Oom ingin memasukan titit Oom ke lubang memek Lia, Oom jamin Lia akan merasakan sesuatu yang lebih enak lagi dibandingkan yang tadi.” akhirnya aku katakan final yang aku maksudkan.

“Ooh ya, tapi.. Oom.. apa titit Oom bisa masuk tuh? Lubang memek Lia kan sempit begini sedangkan tititnya Oom.. gede banget gitu…” Lia sambil menunjuk lubang nikmatnya.

“Pelan-pelan dong, ntar pasti bisa masuk kok.. cobain ya..?” pintaku lagi.
“Iya deh Oom…” Lia secara otomatis telah mengangkangkan kakinya selebar-lebarnya.
Kuarahkan kepala kemaluanku ke lubang vagina Lia yang masih super sempit tersebut. Begitu menyentuh lubang nikmatnya, aku merasa seperti ada yang menggigit dan menyedot kepala kemaluanku, memang sangat sulit untuk memasukkannya. Sebenarnya bisa saja kupaksakan, tetapi aku tidak ingin Lia merasakan kesakitan. Kutekan sedikit demi sedikit, kepala kemaluanku bisa masuk, Lia mengaduh dan menjerit karena merasa perih. Aku menyuruhnya menahan. Efek dari obat dopping itu tadi adalah untuk sedikit meredam rasa perih, selanjutnya kutekan kuat-kuat.
“Blusss…”

Lia menjerit cukup keras, “Ooommm… tititnya sudaaahhh masuk… kkaahhh?”
“Udah sayang… tahan ya…” kataku sambil mengelus-ngelus rambut Lia.

Aku mundurkan batang kemaluanku. Karena sangat sempitnya, ternyata bibir kemaluan Lia ikut menggembung karena tertarik. Kumajukan lagi, kemudian mundur lagi perlahan tetapi pasti. Beberapa waktu, Lia pun sepertinya sudah merasakan enak. Setelah cairan mani Lia yang ada di lubang perawannya semakin membanjir, maka lubang kenikmatan itu sudah sedikit merekah. Aku menggenjot maju mundur dengan cepat. Ahhh.. inikah kemaluan perawan gadis imut. Enak sekali ternyata. Hisapannya memang tiada duanya. Aku merasa keringat telah membasahi tubuhku, kulihat juga keringat Lia pun sudah sedemikian banyaknya.

Sambil kuterus berpacu, puting susu Lia kumainkan, kupelintir-pelintir dengan gemas, bibir Lia aku pagut, kumainkan lidahku dengan lidahnya. Aku merasakan Lia sudah keluar beberapa kali, sebab aku merasa kepala batang kemaluanku seperti tersiram oleh cairan hangat beberapa kali dari dalam lubang surga Lia. Aku ganti posisi. Jika tadi aku yang di atas dan Lia yang di bawah, sekarang berbalik, aku yang di bawah dan Lia yang di atas. Lia seperti kesetanan, bagaikan cowboy menunggang kuda, oh enak sekali rasanya di batang kemaluanku. Naik turun di dalam lubang surga Lia.

Sekian lama waktu berlalu, aku merasa puncak orgasmeku sudah dekat. Kubalik lagi posisinya, aku di atas dan Lia di bawah, kupercepat gerakan maju mundurku. Lalu aku peluk erat sekali tubuh kecil dalam dekapanku, kubenamkan seluruh batang kemaluanku. Aku menegang hebat.

“Crruttt… crruttt…”
Cairan maniku keluar banyak sekali di dalam lubang kemaluan Lia, sedangkan Lia sudah merasakan kelelahan yang amat sangat. Aku cabut batang kemaluanku yang masih tegang dari lubang kemaluan Lia. Lia kubiarkan terbaring di sofa. Tanpa terasa, Lia langsung tertidur, aku bersihkan lubang kelaminnya dari cairan mani yang perlahan merembes keluar, kukenakan kembali semua pakaiannya, lalu kubopong gadis kecilku itu ke kamarnya. Aku rebahkan tubuh mungil yang terkulai lelah dan sedang tertidur di tempat tidurnya sendiri, kemudian kucium keningnya. Terima kasih Lia atas kenikmatannya tadi. Malam pun tiba.
Keesokan harinya, Lia mengeluh karena masih merasa perih di vaginanya, untungnya Tante Linda tidak tahu. Hari berlalu terus. Sering kali aku melakukan olah raga senggama dengan Lia, tentunya tanpa sepengetahuan Oom Joko dan Tante Linda.

Kira-kira sudah berjalan setengah tahun lamanya, Lia sudah sangat pintar untuk ukuran gadis seusianya dalam melakukan olahraga senggama. Aku pun sangat memanjakannya, uang yang biasa kuhamburkan untuk membayar wanita malam, kuberikan ke Lia. Untuk menghindari kecurigaan orang tuanya, uang itu kubelikan hal-hal yang Lia suka, seperti makanan, mainan dan masih banyak lagi.

Sekarang Lia sudah kelas 2 SMP, naik kelas dengan nilai yang bagus, apa yang kulakukan dengan Lia tidak mempengaruhi belajarnya. Inilah yang membuat aku semakin sayang, dan sampai suatu saat, Tante Linda diharuskan pergi beberapa hari lamanya ke ibu kota untuk menemani Oom Joko menghadiri resepsi-resepsi pernikahan dari rekan-rekan kerja Oom Joko yang kebetulan berurutan tanggalnya. Aku ditinggal berdua di rumah dengan Lia, memang sudah terlalu biasa, sedikit bedanya adalah sekarang sudah super bebas, tidak mengkhawatirkan kalau-kalau Tante Linda pulang dari kerja.
Lia pernah menjanjikan kepadaku akan membawa teman-teman akrabnya main ke rumah untuk diajarkan olahraga senggama. Dan saat yang tepat adalah sekarang, dimana Tante Linda tidak akan ada di rumah untuk beberapa hari, dan Lia juga mulai libur karena kelasnya dipakai untuk testing uji coba siswa kelas 3. Sangat kebetulan sekali kalau hari ini sabtu, sekolah Lia pulang sangat awal dikarenakan guru-guru sibuk menyiapkan bahan untuk testing uji coba siswa kelas 3. Lia telpon ke kantorku, menanyakan apakah aku bisa pulang cepat atau tidak. Lia juga mengatakan kalau dia membawa teman-temannya seperti yang telah dijanjikannya.

Kontan saja mendengar kabar itu, aku langsung ijin pulang. Sebelum pulang ke rumah kusempatkan mampir ke apotik untuk membeli sejumlah obat-obatan yang kuperlukan nantinya, aku ingin penantian yang begitu lamanya, di hari ini akan terlaksana.

Sesampainya di rumah, benar saja, ada tiga gadis teman akrab Lia, mereka semua cantik-cantik. Tidak kalah cantik dengan Lia. Gadis pertama bernama Anna, wajahnya cantik, hidungnya mancung, rambutnya lurus potongan pendek, tubuhnya tidak terlalu kurus, senyumnya selalu menghiasi bibirnya yang sensual, payudaranya kelihatan belum tumbuh akan tetapi satu yang membuat aku heran, dari benjolan bajunya, kutahu kalau itu puting susunya Anna, sepertinya lumayan besar. Tetapi masa bodo, yang penting miliknya bisa dinikmati. Anna ini sepertinya tomboy, wow, kuat juga nih senggamanya, pikiran kotorku muncul mendadak.

Lalu gadis kedua bernama Indah, wajahnya mirip Lia, hidungnya mancung, rambutnya lurus panjang sebahu, agaknya lumayan pendiam, tubuhnya sedikit lebih besar dibandingkan dengan Lia dan Anna, payudaranya sudah sedikit tumbuh, terlihat dari permukaan bajunya yang sedikit membukit, lumayan bisa buat diremas-remas, sebab tanganku sudah lama tidak meremas payudara montok.

Gadis yang ketiga, inilah yang membuatku terpana, namanya Devi. Ternyata Devi ini masih keturunan India, cantik sekali, rambutnya pendek, hidungnya sangat mancung, dan sepertinya sedikit cerewet. Tubuhnya sama dengan Lia, kecil dan imut, payudaranya kurasa juga belum tumbuh. Sekilas, puting susunya saja belum terlihat.

Aku pulang tidak lupa dengan membawa oleh-oleh yang sengaja kubeli, aku manjakan mereka semua sesuai dengan pesan Lia. Teman-temannya ingin melihat olahraga senggama yang sering Lia lakukan. Lia memang sedikit ceroboh, membocorkan hal-hal seperti ini, tetapi Lia menjamin, karena ketiga gadis itu adalah sahabat sejatinya.
Singkat waktu, malam pun tiba. Ketiga gadis teman Lia itu sudah berencana untuk menginap di rumah Lia, sebab besoknya adalah minggu, alias libur, seninnya juga masih libur dan lagi mereka pun sudah ijin kepada orang tuanya masing-masing untuk menginap di tempatnya Lia, alasannya menemani Lia yang ditinggal mamanya ke luar kota.

Pertama sekali, aku diperkenalkan Lia kepada ketiga temannya, dan tidak ada basa-basi seperti apa yang kulakukan kepada Lia dulu. Aku meminta Lia memutarkan film Tarzan X kesukaannya kepada ketiga temannya itu. Gadis-gadis kecil itu rupanya sudah menantikan. Menonton pun dengan konsentrasi tinggi layaknya sedang ujian. Aku takjub melihat mereka, dan justru cekikikan sendiri melihat adegan demi adegan, sepertinya ketiga teman Lia itu sudah pernah melihat yang sesungguhnya atau pemandangan yang nyata.

Setelah film usai, aku lalu beranikan diri bertanya ke mereka. Pertama sekali adalah ke Anna yang aku nilai paling berani.
“Anna, Oom penasaran, kayaknya Anna sering lihat olahraga begituan?” tanyaku penuh selidik.
“Iya benar kok Oom… Anna sering lihat olahraga begitu, terlebih kakak Anna sama pacarnya, mereka selalu berbuat begituan di rumah” jawab Anna jujur menjelaskan dan membenarkan.

“Hah? Masak sih di rumah..” tanyaku lagi dengan heran.
“Iya, bener kok Oom, sebab papa dan mama Anna kan ngga tinggal di sini” Anna menjawab keherananku.

“Oohhh…” aku hanya bisa manggut-manggut.
“Emang sih, Anna lihatnya dengan sembunyi-sembunyi, sebab merasa penasaran sebenarnya apa sih yang kakak Anna lakukan bersama pacarnya? Ternyata seperti di film Tarzan itu Oom…” Anna menjawab dengan menerangkan tanpa merasa aneh atau bahkan malu.

Lalu aku selanjutnya bertanya kepada Indah. Indah sedikit tergagap sewaktu kutanya, ternyata Indah sendiri sudah mengetahui hal begituan secara tidak sengaja sewaktu sedang menjemur pakaian di loteng rumahnya. Indah bercerita, tanpa sengaja dia melihat di halaman belakang tetangganya, ada yang sedang bermain seperti yang dilakukan di dalam film Tarzan X tersebut. Intinya Indah tahu kalau titit itu bisa dimasukkan ke lubang wanita.

Terakhir aku bertanya ke Devi, dengan polosnya Devi mengungkapkan kalau dia mengetahui hal-hal begituan dari melihat apa yang papa dan mamanya lakukan ketika malam hari. Sama seperti dengan pengalaman Lia pertama kali melihat hal itu.
Setelah aku mendengar cerita mereka, aku menawarkan, apakah mereka ingin melihat langsung, kompak sekali mereka bertiga menjawab ya. Lalu aku bertanya sekali lagi, apakah mereka ingin merasakannya juga, sekali lagi dengan kompaknya, mereka bertiga menjawab ya.

“Kalo begitu… Oom mulai sekarang ya…?” jantungku berdegup kencang karena girang yang tiada tara, aku tidak mengira akan semulus ini.

Aku akhirnya melepaskan seluruh pakaian yang kukenakan, sesuai dengan rencana, aku akan memamerkan olahraga senggama itu berpasangan dengan Lia, dan sebetulnya Lia yang mempunyai ide merencanakan itu semua.

Anna, Indah dan Devi memandangi terus ke bagian bawah tubuhku, apalagi kalau bukan batang kemaluanku yang sangat kubanggakan, hitam, panjang, besar, berotot, dan berdenyut-denyut. Lia sendiri sudah melepaskan seluruh pakaiannya. Puting susu Lia sudah membenjol cukup besar karena sering kali kuhisap, dan oleh Lia sendiri sering ditarik-tarik saat menjelang tidur. Payudaranya masih belum nampak mulai menumbuh. Untuk bagian bawah, vagina Lia sudah sedikit berubah. Dulunya hanya seperti garis membujur, sekarang dari kemaluan Lia sudah mencuat bibir bibir berdaging, hal ini dikarenakan sudah sering kumasuki dengan batang kemaluanku tentunya, tetapi itu semua tidak mengurangi keindahan dan kemampuan empotnya (hisapan dan pijatan vagina).

Aku main tembak langsung saja kepada Lia, sebab aku tahu Lia sudah sangat berpengalaman sekali untuk hal beginian. Kupagut bibir Lia, tanganku memainkan puting susu dan liang nikmatnya, Lia sudah cepat sekali terangsang, kulepaskan pagutanku, lalu kuciumi puting susunya. Kuhisap bergantian, kiri dan kanan. Anna, Indah dan Devi melihat caraku memainkan tubuh telanjang Lia, napas mereka bertiga mulai memburu, rupanya nafsu ingin ikut merasakan telah menghinggapi mereka.

Sekian lama kuciumi dan hisap puting susu mungil yang sudah lumayan membenjol besar itu, aku memang sangat suka sekali menetek dan menghisap puting susu, terlebih bila melihat ibu muda sedang menyusui bayinya, ouw, pasti aku langsung terangsang hebat.

Setelah puas kuberkutat di puting susu Lia dengan ciuman dan hisapan mulutku, kualihkan ke liang senggama Lia, kalau dahulu Lia tidak bisa menahan puncak orgasmenya, sekarang sudah sedikit ada kemajuan. Kuhisap dan kuciumi liangnya, Lia masih bisa menahan agar tidak jebol, tidak lama aku merasakan Lia sudah bergetar, kupikir jika aku terlalu lama menghisap lubang senggamanya, Lia pasti tidak akan kuat lagi menahan cairan maninya keluar, maka langsung saja kumasukkan batang kemaluanku yang sudah sangat tegang itu ke lubang kenikmatan Lia. Aku tidak merasa kesulitan lagi untuk memasuki lubang vagina Lia, sudah begitu hapal, maka semua batang kemaluanku amblas ke dalam lubang senggama Lia.

Anna, Indah dan Devi melihat dengan sedikit melotot seolah tidak percaya batang kejantananku yang hitam, panjang dan sedemikian besarnya bisa masuk ke lubang senggama teman mereka, yaitu Lia. Mereka bertiga mendesah-desah aku merasa mereka sudah ingin sekali merasakan lubang kenikmatan mereka juga diterobos batang kejantananku.

Aku menggerakan maju mundur, mulai dari perlahan lalu bertambah cepat, kemudian berganti posisi, berulang kali sekitar 15 menit. Aku sudah merasakan Lia akan mencapai puncak orgasmenya. Betul saja, tidak lama kemudian, Lia memelukku erat dan dari dalam lubang surganya aku merasakan ada semprotan yang keras menerpa kepala kejantananku yang berada di dalam lubang vaginanya. Banyak sekali Lia mengeluarkan cairan mani, Lia terkulai lemas, batang kejantananku masih gagah dan kokoh, memang aku sengaja untuk tidak menguras tenagaku berlebihan, target tiga vagina perawan yang menanti harus tercapai.
Lia kusuruh istirahat, Lia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan sekaligus beristirahat, selanjutnya kutawarkan ke Anna, Indah, dan Devi, siapa yang mau duluan. Sejenak mereka bertiga sepertinya ragu, lalu akhirnya Anna yang mengajukan diri untuk mencoba.

“Bagus Anna, kamu berani deh.” pujiku kepada Anna.
Tanpa berlama-lama, kusuruh Anna untuk membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, langsung saja Anna melakukan apa yang kusuruh, aku memandangi Anna yang mulai melepas pakaiannya satu persatu, sampai akhirnya telanjang bulat. Tubuh Anna putih bersih, apa yang tadi membuatku penasaran sudah terobati, puting susu Anna kunilai aneh, payudaranya memang belum tumbuh, akan tetapi puting susunya itu membenjol lumayan besar. Bentuknya unik dan baru kali ini aku melihatnya, bentuknya mengerucut tumpul, puting susu dan lingkaran hitam kecoklatannya menyatu dan meninggi. Kata kamus ilmiah, puting susu berbentuk seperti ini langka sekali dan kualitas sensitifnya sangat tinggi, bisa dikatakan sangat perasa sekali. Sedangkan vaginanya masih berupa garis, dengan bagian sisinya sedikit membukit. Sepertinya vagina ini kenyal sekali dan super enak. Tidak sabar rasanya kuingin segera merasakannnya.

Aku langsung menciumi bibir Anna yang sensual itu, kupagut dengan mesra. Tanganku bergerak mengusap puting susu unik milik Anna. Benar saja, begitu telapak tanganku mengusap puting susunya, Anna merasa sangat terangsang.

“Ouwww… Oommm… enak sekali Oom..” Anna mengomentari apa yang dirasakannya.
Aku merasakan puting susu Anna mulai menegang. Segera saja kulepaskan pagutanku di bibir Anna, aku merasa senang, rupanya Anna telah tanggap dengan apa yang kumau, dengan tangannya sendiri menjepit puting susunya dan menyodorkan kepadaku. Maka dengan rakusnya, mulailah kuciumi dan kuhisap, Anna berkali-kali menjerit kecil. Rupanya puting susu Anna sangat perasa, tanganku tanpa sadar menyentuh kemaluan Anna, ternyata vagina Anna sudah basah dan banyak juga cairan maninya yang merembes keluar. Aku terus saja menyusu dan mengempot puting susu Anna, kiri dan kanan bergantian.

“Oomm… Anna kok seperti mau pipis nih… Ada sesuatu yang mau keluar dari memek Anna nih…” Anna mengungkapkan apa yang akan terjadi.
“Tahan dikit dong…” jawabku.

Mendengar hal ini, kulepaskan hisapanku dari puting susu Anna, lalu mulutku beralih ke liang senggama Anna. Secara otomatis, Anna sudah mengangkangkan kedua kakinya, aku mencium aroma dahsyat dari liangnya Anna. Sungguh legit. Vagina Anna merah sekali dan sudah mengkilap, kujilati kemaluan yang basah itu, selanjutnya kuhisap dalam-dalam. Anna rupanya mengelinjang liar karena merasa nikmat.
“Oomm… Anna udah ngga kuat lagi nihhh… aahhh…” jerit Anna seiring dengan tubunnya yang menegang.

Saat itu, mulutku masih menghisap lubang kemaluan Anna, aku merasakan ada sesuatu yang menyemprot, rasanya asih dan gurih. Inikah cairan mani Anna karena sudah mencapai orgame pertamanya, tanpa pikir panjang kutelan saja cairan mani itu, kujilati dengan rakus. Kulihat juga buah klitoris Anna yang kecil mencuat berdenyut-denyut. Aku sendiri merasakan sudah akan mencapai puncak orgasmeku.

“Anna.. Oom mau masukin titit Oom ke lubang memek Anna nih..” aku meminta ijin kepada Anna.

“Ya Oom, masukin saja, ayo dong cepat…” Anna rupanya sudah tidak sabar lagi ingin merasakan batang kejantananku memasuki lubang surganya.

Kuarahkan kepala senjataku ke lubang senggamanya Anna, Anna tanpa diminta memegang batang kemaluanku dan membimbingnya memasuki lubang kemaluannya. Surprise, insting Anna hebat juga nih pikirku, tanpa kesulitan, lubang vagina yang sudah banjir dengan cairan mani itu menerima kepala kemaluan dan batang kemaluanku. Lumayan sempit juga, untungnya tertolong oleh cairan mani dan pengertian Anna membimbing masuk batang kemaluanku sehingga aku tidak kerepotan saat memasukannya.

“Blusss…” kutekan sepenuhnya, aku maju mundurkan dengan segera, perlahan, lalu cepat.

Aku merasa akan mencapai klimaksku, hisapan vagina Anna sungguh dahsyat. Ini yang membuatku tidak kuat menahan cairan maniku untuk lama keluar. Anna memang kuat sekali, aku merasakan Anna berkali-kali menyemprotkan cairan maninya, mungkin ada lima kali lebih, akan tetapi Anna masih mampu mengimbangi gerakanku, hebatnya lagi, goyangan pantatnya. Oh edan, akhirnya aku merasa tidak kuat menahan lagi, kulihat Anna pun sudah akan mencapai orgasme puncaknya.

“Anna.. kita sama-sama keluarkan yaaa.. please sayang..” pintaku sambil sekuat tenaga menahan.

“Iiiiyaaa.. Oommm.. sekarang yaaa…” Anna berkata dengan bergetar.
Aku mengeram, tubuhku menegang, tubuh kecil Anna yang kutindih, kupeluk erat sekali.
“Crottt… crrruttt… aaahhh.. seerrr…” kukeluarkan cairan mani puncak orgasmeku di dalam lubang kemaluan Anna yang sempit itu.
Karena banyaknya cairan mani di dalam lubang senggama Anna, lubang kelamin itu tidak bisa menampung semua, maka merembes dengan derasnya cairan mani itu keluar dari lubang senggama, cairan maniku yang bercampur dengan cairan mani Anna. Kucabut batang kemaluanku yang masih cukup tegang dari lubang kemaluan Anna, batang kejantananku sangat mengkilap, seperti habis di pernis.

Indah dan Devi, tanpa sepengetahuanku ternyata telah telanjang bulat, rupanya mereka berdua tidak tahan melihat pergulatanku yang cukup lama dengan Anna. Memang kuakui Anna sangat kuat, cewek tomboy ternyata benar-benar hebat permainan senggamanya. Apa yang dikatakan orang memang bukan isapan jempol, aku sudah membuktikannya hari ini lewat gadis kecil bernama Anna. Kupikir jika gadis tomboy yang sudah matang pasti akan lebih kuat lagi.

Kulihat juga Lia sudah selesai membersihkan badan dan sekarang dengan penuh pengertian sibuk di dapur untuk membuat makanan. Anna yang masih terkulai lemas, kusuruh untuk mandi dulu dan istirahat, lalu setelah itu kusuruh juga untuk membantu Lia di dapur.

Indah dan Devi dengan telanjang bulat telah menghampiriku, dari pandangan mata mereka seolah meminta giliran. Aku sebenarnya merasa kasihan, aku masih cukup lelah untuk memulainya lagi. Kupikir kalau kubiarkan mereka terlalu lama menanti, pastilah akan membuat mereka kehilangan gairah nantinya, akhirnya kuminum obat yang kubeli tadi di apotik. Kuminum 6 pil sekaligus, reaksi obat ini sangat cepat, badanku merasa panas. Melihat tubuh-tubuh kecil telanjang bulat milik Indah dan Devi, batang kemaluanku yang tadinya loyo sekarang tegang dan mengacung-ngacung, gairahku lebih membara lagi.

Indah seingatku tadi masih menggunakan pakaian lengkapnya, sekarang sudah telanjang bulat, sungguh aku mengagumi tubuhnya, payudaranya sedikit menumbuh dan membukit, puting susunya kecil, mungil, coklat kehitaman telah menegang sehingga meruncing, lubang kemaluannya pun kulihat sudah basah menunggu penantian. Lalu Devi, yang juga tadi masih kulihat berpakaian lengkap, sekarang telah telanjang bulat pula. Devi memang lain sendiri dibandingkan Anna, Lia dan Indah, mungkin karena masih keturunan India, akan tetapi Devi juga yang paling muda sendiri. Usianya selisih satu tahun lebih muda dibandingkan Anna, Indah maupun Lia. Jelas sekali dengan kurun usia relatif sangat muda, pertumbuhan payudaranya belum ada sama sekali, puting susunya juga belum menampakkan benjolan yang berarti, masih rata dengan dada. Tetapi karena terangsang, rupanya menjadi sedikit meruncing. Lalu vaginanya pun masih biasa saja, kesimpulanku Devi masih imut sekali. Mungkin satu tahun ke depan baru ada perubahan, aku sebenarnya tidak tega untuk menerobos keperawanannya sekarang, tetapi apa komentarnya nanti, pastilah dikatakan olehnya tidak adil, bahkan yang kukuatirkan adalah Devi nantinya akan marah dan cerita tentang hal ini kepada orang lain.

Dalam waktu yang bersamaan, kurengkuh dua gadis kecil itu sekaligus. Kupagut bibir Devi, kuciumi leher dahi dan tengkuknya. Devi merasa enak dan geli, sedangkan Indah, puting susu dan payudaranya kuusap-usap dengan tanganku, payudaranya yang sudah cukup membukit menjadikan tanganku bisa meremasnya. Indah mendesah keenakan. Aku minta ke Indah untuk memijat-mijat batang kemaluanku, ternyata Indah pandai juga memijat. Batang kejantananku semakin menegang. Pijatan Indah sungguh enak sekali, apalagi remasan tangganya di buah kejantananku.

Selanjutnya, kulepaskan pagutanku di bibir Devi, kulanjutkan dengan menghisap puting susu Devi yang meruncing kecil. Devi menggelinjang keenakan, kujilati dan kubuat cupang banyak sekali di dada Devi, sampai akhirnya aku beralih ke liangnya Devi yang sangat imut, kemaluan ini sama seperti kepunyaan anak-anak kecil yang sering kulihat mandi di sungai. Tetapi, ah masa bodo. Devi kegelian ketika kumulai menciumi, menjilat dan menghisap vaginanya itu. Kukangkangkan kedua kaki Devi, maka terkuaklah belahan kemaluan dengan lubang yang sangat sempit. Jika kuukur, lubang kemaluan itu hanya seukuran pulpen kecil. Aku sempat gundah, apakah batang kejantananku bisa masuk? Tetapi akan kucoba, kuyakin lubang surga itu kan elastis, jadi bisa menampung batang kemaluan sebesar apapun.

Devi merasa sangat keenakan ketika kumainkan kemaluannya, berkali-kali Devi orgasme. Cairan maninya sungguh wangi. Setelah puas memainkan vagina Devi, kuminta Devi bersiap, sedangkan Indah kusuruh berhenti memainkan buah zakar dan batang kemaluanku. Lalu kupagut bibir Indah sebentar, kemudian kuciumi leher dan tengkuknya. Indah mendesah, tidak berapa lama, kuberalih ke payudara dan puting susu Indah. Kuciumi dan hisap dengan penuh nafsu, payudara yang baru membukit itu kuremas-remas dengan gemas. Puting susunya yang kecil itu kuhisap dan kusedot. Aku menyusu cukup lama, vagina Indah yang sudah basah pun tidak luput dari hisapanku. Devi sudah menunggu-nunggu, menantikan batang kemaluanku memasuki lubang nikmat kecilnya.

Segera saja kuselesaikan hisapanku di lubang kemaluan Indah. Kurasa dengan lubang kemaluan Indah, aku tidak akan merasa kesulitan, lubang kemaluan Indah kunilai sama dengan punya Anna dan Lia waktu pertama kali dimasuki batang kejantananku. Yang kupikir, kesulitannya adalah lubang vagina Devi, selanjutnya kusuruh Indah untuk bersiap-siap juga.

Kuludahi batang kemaluanku agar licin, lalu kuarahkan perlahan kepala kemaluanku itu ke lubang surganya Devi. Kutekan sedikit, meleset, kuposisikan lagi, tekan lagi, tetap saja meleset, tidak mau masuk. Untunglah Anna dan Lia datang, mereka berdua tanggap dengan kesulitan yang kuhadapi. Lia dengan sigap menepiskan kedua sisi vagina Devi dengan kedua sisi telapak tangannya. Lubang senggama Devi bisa terkuak, kucoba masukkan lagi, ternyata masih meleset juga, Anna yang melihat hal itu tanpa ragu-ragu juga ikut turun membantuku. Anna mengulurkan jari tanggannya, memijat bagian atas dan bawah lubang senggama Devi, sehingga secara elastis lubang kemaluan Devi bisa lebih terkuak sedikit. Aku berkonsentrasi memasukkan kepala kejantananku ke lubang senggama Devi itu.

Kepala kemaluanku dengan sedikit kupaksakan, bisa masuk ke lubang surganya Devi, kutahu Devi merasa kesakitan. Devi hanya meringis dan dari sudut matanya meleleh air matanya. Indah yang dari tadi menunggu giliran lubang senggamanya ditembus batang kejantananku, karena mengetahui bahwa aku mengalami kesulitan, akhirnya ikutan pula membantuku memuaskan Devi. Tanpa malu-malu, Indah menyodorkan puting susunya ke mulut Devi, layaknya ibu kepada bayinya yang minta susu. Devi mengulum puting susu Indah dengan kuat. Indah merasakan kalau puting susunya digigit oleh Devi, Indah diam saja, hanya sedikit menyeringai, menahan sakit tentunya.

Aku menekan terus, sehingga sudah separuh batang kejantananku masuk ke dalam lubang senggama Devi. Kepala kemaluanku bagaikan disetrum dan dihisap oleh suatu tenaga yang luar biasa mengenakan. Kutekan sekuat tenaga, dan “Blusss…”
Masuknya seluruh batang kejantananku ke dalam lubang kemaluan Devi diiringi dengan dua jeritan. Yang pertama adalah jeritan Devi sendiri karena merasa sakit dan enak, matanya sampai meram melek, kadang membelalak. Satunya lagi adalah jeritan Indah, sebab tanpa Devi sadari, Devi telah menggigit keras puting susu Indah yang masih dikulumnya itu.
Anna dan Lia hanya tersenyum-senyum saja, kubiarkan batang kejantananku membenam di dalam lubang senggama Devi. Kurasakan empotan-empotan vagina Devi. Setelah sekian lama aku menikmati, kumundurkan pantatku, ternyata bibir kemaluan Devi ikut tertarik. Bibir kemaluan Devi mengikuti gerakan pantatku, begitu aku mundurkan maka bibir kemaluan Devi akan mencuat ke atas karena ikut tertarik. Sebaliknya, jika kumajukan lagi pantatku, maka bibir kemaluan Devi pun ikut mencuat ke bawah dan terbenam. Sungguh fantastis, aku tidak menyesal merasakan enaknya yang luar biasa.

Kupercepat gerakan maju mundurku, semakin lama aku merasakan lubang senggama Devi membasah dan membanjir. Lorong lubang vagina Devi pun semakin licin, tetapi tetap saja sempit, sampai akhirnya Devi terkuras tenaganya dan tidak bisa mengimbangiku mencapai puncak kenikmatan. Tubuh Devi berkali-kali menegang.
“Oommm… Devi pipis lagi… ahhh…” desahnya.

Cairan mani putih dan hangat milik Devi merembes deras keluar dari celah-celah lubang kemaluannya yang masih disumpal oleh batang kejantananku.
Devi sudah lelah sekali, aku pun sudah mulai bergetar pertanda puncakku pun sudah dekat, maka kucabut saja batang kemaluanku dari lubang senggama Devi.
Begitu kucabut, terdengar bunyi, “Ploppp…” seperti bunyi batang pompa dikeluarkan dari pipanya.

Devi kusuruh istirahat, ternyata Devi suka menyusu juga, karena puting susu Indah ternyata masih dikulumnya. Devi manja tidak mau melepaskan, sampai akhirnya, Anna yang sedang duduk-duduk berkata.

“Eh Vi… udah dong neteknya, kasihan tuh Indah, kan sekarang gilirannya dia.” Anna mengingatkan, “Besok-besok kan masih bisa lagi…” tambah Anna.
“Iya-iya… aku tahu kok…” Devi akhirnya menyadari, lalu melepaskan puting susu Indah dari mulutnya.

“Vi… nih kalo mau… puting susuku juga boleh kamu isepin sepuasnya…” ujar Anna sambil memijat-mijat sendiri puting susunya yang membenjol paling besar sendiri.
Devi mau saja memenuhi ajakan Anna, maka kulihat Devi begitu rakusnya mengulum dan menyedot puting susu Anna. Kadang Devi nakal, menggigit puting susunya Anna, sehingga Anna menjerit kecil dan marah-marah.

Setelah lepas dari Devi, Indah kemudian menempatkan diri dan bersiap-siap. Indah mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, sehingga terkuaklah lubang senggamanya yang sudah cukup basah karena cairan mani yang meleleh dari dinding di lubang vaginanya. Betul juga, aku berusaha tanpa melalui kesulitan, berhasil memasuki lubang senggama Indah, seperti halnya aku pertama kali menerobos lubang kemaluan Lia dan Anna. Kumasukkan batang kejantananku seluruhnya ke dalam lubang kenikmatan Indah. Indah menahan perih, karena keperawanannya baru saja kutembus. Tetapi karena sudah sangat bernafsunya, maka rasa perih itu tidak dirasakannya lagi, yang ada hanyalah rasa enak, geli dan nikmat. Indah meram melek merasakan adanya batang kejantananku di dalam lubang senggamanya.

“Oom Agus, gerakin dong…” Indah memintaku untuk segera memulai.
“Baik Indah, Oom minta Indah imbangi Oom ya…!” Indah tidak menjawab tetapi hanya manggut-manggut.

Kumulai saja gerakan maju mundur pantatku, batang kemaluanku masuk dan keluar dengan leluasanya, pertama dengan perlahan dan kemudian kupercepat. Indah sudah banyak belajar dari melihat langsung permainanku tadi dengan Lia, Anna, maupun dengan Devi. Indah memutar-mutar pantatnya sedemikian rupa. Aku merasa kalau Indah yang pendiam ternyata mempunyai nafsu yang besar. Kurasa Indah akan lebih kuat mengimbangiku.

Betul juga dugaanku Indah memang kuat juga, setelah hampir seperempat jam kuberpacu, Indah masih belun juga mengeluarkan cairan maninya, sedangkan aku sendiri memang masih bisa menahan puncak orgasmeku, disebabkan aku telah minum obat dopping 6 pil sekaligus.

“Ayoooo Oomm… Indah merasa enakkk… terusiiinnn…” Indah kembali meracau.
Kuteruskan memacu, aku heran, kenapa Indah bisa selama ini, padahal Indah baru pertama kali merasakan nikmatnya senggama.

“Indah… kamu kok kuat sekali sih…?” tanyaku sambil terus memacu.
“Ini berkat obat Oom lhoooo…” jawab Indah bersemangat sambil memutar-mutarkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, sedangkan kedua tangannya meremas-remas payudaranya sendiri dan sesekali menarik-narik puting susunya yang masih menegang.
Aku kaget juga mendengar pengakuan Indah, sampai aku berhenti melakukan gerakan. Ternyata Indah meminum obatku juga, jelas saja.

“Kok berhenti Oom… gantian Indah yang di atas ya?” kata Indah lagi.
Aku diam saja, kami berganti posisi. Kalau tadi Indah dalam posisi aku tindih, sekarang Indah yang berada di atas dan menindihku. Indah menaik-turunkan pantatnya, maju mundur, perlahan dan cepat, kadang berposisi seperti menunggang kuda, liar dan binal.
Permainan dalam posisi Indah di atas dan aku di bawah, ternyata menarik perhatian Lia.

Dari tadi Lia memang hanya melihat pergulatanku dengan Indah.
“Oom Agus… masa sih kalah sama Indah…” sindir Lia kepadaku.
“Ngga dong… tenang saja Lia…” jawabku membela diri.

Kulihat juga Devi rupanya menyudahi kegiatan menyusunya dari puting susu Anna. Mereka bertiga rupanya tertarik menontonku. Kadang berkomentar yang membuatku tersenyum.

“Yaccchhh… Oom Agus ngga adil… Oom Agus curang, sama Indah bisa selama ini, sama Anna kok cepet sekali.” Anna memprotes.

“Lho, kan Anna tadi sudah kecapean, maka Oom suruh istirahat, dan cuma Indah sendiri yang belon capek nih…” lanjutku.

Indah sudah berkeringat banyak sekali, aku merasakan ada cairan hangat yang merembes di batang kejantananku. Aku sendiri mulai merasa adanya desakan-desakan dari pangkal kemaluanku.

“Oomm… Indah udah ngga kuat nahannya nih… sshh heehh…” kata Indah sepertinya menahan.

Mendengar ini, langsung saja kuganti posisi lagi. Aku kembali di atas dan Indah di bawah, kupercepat gerakanku sampai maksimal.

“Oommmm… Indahhh… aaakkkhhhh… hekkksss aahhh…” Indah menjerit histeris.
Tubuhnya menegang dan memelukku dengan erat, rupanya Indah telah mencapai puncak nikmatnya, dari dalam lubang senggamanya menyemprot berkali-kali cairan maninya yang hangat menyiram kepala kejantananku yang masih berada di dalam lubang vaginanya.

Lubang kemaluan Indah dibanjiri oleh cairan maninya sendiri, becek sekali vagina Indah. Batang kejantananku sampai terasa licin, sehingga menimbulkan bunyi berdecak. Indah sudah tidak bisa mengimbangiku, padahal aku dalam keadaan hampir sampai, katakanlah menggantung. Kucabut saja batang kemaluanku dari lubang senggama Indah, lalu kutarik Devi yang sedang duduk bengong, kusuruh Devi tidur telentang dengan kaki di kangkangkan. Devi tahu maksudku. Segera saja Devi melakukan apa yang kusuruh. Anna dan Lia langsung riuh berkomentar.

“Yacchhh Oom Agus, kok Devi sih yang dipilih…” rungut Anna.
Sedangkan Lia hanya tersenyum kecut sambil berkata, “Ayoooo Oomm… cepetan dong… habis ini kita makan… Lia udah buat capek-capek tadi.” sambil menyuruhku menyelesaikan finalnya.

Aku seperti terhenyak. Segera saja kumasukkan batang kejantananku ke lubang senggamanya Devi yang masih merah. Beruntung sekali, lubang senggama itu masih basah oleh cairan mani, sehingga hanya dengan kupaksakan sekali saja langsung masuk. Lubang kemaluan Devi yang begitu sempit memijat hebat dan menghisap batang kejantananku. Aku ingin menyelesaikan puncak orgasmeku secepatnya. Makin kupacu gerakanku. Devi yang tadinya sudah dingin dan kurang bernafsu langsung terangsang lagi. Tidak sampai lima menit, aku memeluk erat tubuh kecil Devi dan kumuncratkan cairan maniku di dalam lubang senggama Devi.



Sumber
readmore »»  

[Variety] Happy Together S3 - Episode 197


Guests: Sung Sikyung, Kim Janghoon, Cheon Myeonghun, Kim Yeongcheol

It's Sung Sikyung's first time in Happy Together. He's been out of the army since last year but I haven't seen him a lot in variety shows.

I'm not a big fan of Kim Yeongcheol probably because like he himself said, he's not very nice to his hoobaes but is great with his sunbaes. But I have to admit that he does mimic really well and gets all the classic points a celebrity has and copies it. =)


Happy Together - Episode 197 w/ English subtitles
[1] [2] [3] [4]

credits: cjkpop7@youtube


Next >> Episode 198

Previous >> Episode 196
readmore »»  

Cerita Dewasa Pacarku ternyata Doyan Seks Bebas

Cerita dewasa mesum kali ini merupakan sebuah cerita dewasa ang merupakan cerita yang memang dikirimkan oleh seorang yang memang dirahasiakan namanya. Selain cerita mesum kali ini masih banyak sekali lainya yang memang mengakat seperti cerita dewasa pacarku ternyata doyan seks bebas. Cerita ini di tulis oleh seorang anak yang memang masih jadi pelajar di salah satu perguruan tinggi negeri di kota jogjakarta, memang sich yogyakarta memang tempanya perkumpulan dari berbagai anak yang meneruskan sekolah di perguruan tinggi di terbesar apalagi juga marak sekali yang membaca.

Saya seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Panggil saja saya Borris. Cerita ini merupakan kisah nyata saya yang sampai saat ini masih berlangsung meskipun saya akui saya jenuh dan ingin mencari pengalaman lain dengan wanita yang berbeda pula.

Cerita berawal dari kisah pacaran saya dengan Mia, seorang mahasiswi yang berbeda kampus dengan saya. Setelah saya berpacaran dengannya selama dua bulan, barulah Mia menampakkan sisi kehidupan aslinya, bahwa dia penganut seks bebas. Keadaan itu saya ketahui dari perkataannya sendiri ketika saya selesai makan dengannya di sebuah warung mahasiswa khas Yogyakarta. Ketika itu dia cerita kalau selama tiga bulan dia tidak pernah disentuh lelaki termasuk saya. Maksudnya tentu saja merasakan kenikmatan seksual yang selama ini dipenuhinya dari mantan pacarnya yang terdahulu sebelum saya. Kontan saya kaget berat mendengar hal itu. Batang kemaluan saya langsung tegak dan seakan ingin loncat keluar.

“Kenapa kamu tiba-tiba jadi horny begini..?” tanya saya.
“Aku tiga hari ini habis nonton BF bareng temen-temen kosku..,” jawabnya, “Ayolah.., kamu mauya..?” pintanya. Aku semakin tidak karuan mendengar permintaannya itu sambil menggelayut di lenganku dengan manja. Akhirnya kuputuskan untuk meladeninya, meskipun aku belum pernah melakukannya sama sekali dengan wanita manapun. Dia tampak senang sekali mendengar kesediaanku meladeninya malam itu. Di kepalaku mulai timbul pikiran-pikiran yang kotor sambil berfantasi dengan kemolekan tubuhnya yang sintal, langsing dan berisi itu (payudaranya berukuran 32A, kira-kira segitu deh).

Seketika saja motorku langsung kubawa ke arah tempat kost-nya yang memang bebas, dan laki-laki boleh masuk, karena memang tetangga sekitar berjarak agak berjauhan dengan rumah itu. Sampai di kost-nya, aku memarkirkan motorku dan langsung digandeng masuk ke dalam kamarnya.
Teman-teman satu kost-nya langsung saja mengejek kami ketika kami baru saja masuk, “Waaahh, sudah kebelet ya.. abis yang kemarin itu..?” kata salah seorang dari mereka dan langsung disambut sorakan yang lainnya.
Aku hanya diam saja, sedang Mia tertawa kecil sambil berkata, “Biarin..! Orang gue juga kepengen kok..!”

Sesampainya di kamar, Mia bergegas mengunci pintu dan langsung menubrukku sampai aku tersungkur di kasurnya. Dia mulai menerkam bibirku dengan ciumannya yang penuh nafsu. Aku sudah tidak ada pikiran untuk menghentikan tindakannya itu. Aku langsung meladeni ciumannya yang ganas itu dengan ganas pula. Tangan Mia mulai merayap di kemaluanku yang masih tertutup celana. Aku tidak mau kalah juga, kusergap payudaranya dengan remasan yang lembut sambil kulepaskan satu persatu kancing bajunya. Akhirnya dia pun berdiri karena melihatku mulai bernafsu dan sudah mulai membuka bajunya. Dia mulai membantuku membuka bajuku hingga celana dan sekaligus celana dalamku terlepas dari tubuhku dan dilemparkannya saja ke tepi ranjangnya. Begitu juga sebaliknya, kulucutkan pakainnya hingga kami sama-sama telanjang bulat. Tanpa pikir panjang, aku direbahkannya di atas kasur dalam posisi duduk, dan kini wajahnya sudah berada tepat di depan batang kejantananku yang sudah tegak berdiri.

“Aku kangen sama kemaluan lelaki..!” katanya sambil mengocok-ngocok lembut batang kemaluanku.
Aku semakin menggeliat. Baru pertama kali batang kemaluanku dikocok sama cewek. Kocokannya semakin terasa dan aku semakin mendesah hebat. Tidak sampai dua menit dia mengocok, tiba-tiba mulutnya diarahkannya ke batang kejantananku dan ia pun mulai mengulumnya. Gila..! Sensasi yang luar biasa. Aku terkesan dengan permainan mulutnya, sesekali dihisap, dimainkan menggunakan gigi, dikulum, dijilat dan banyak lagi deh. Setelah agak lama dan aku juga sudah mulai sangat terangsang, kuangkat dia ke sebelahku dan sekarang aku yang berlutut di lantai, sedang Mia yang sekarang duduk di kasur. Aku sudah tidak tahan ingin mencoba merasakan menjilati miliknya yang gundul tanpa ada selembar bulu pun itu, karena tampaknya Mia sudah mencukurnya.

Aku memulai dengan mempermainkan vaginanya terlebih dahulu menggunakan jari-jariku.
“Sssttt… aaahhh… terus..!” rintihnya ketika jariku mulai memasuki daerang liang senggamanya.
Aku mulai mempermainkan nafsunya dengan jari-jariku, dia mulai meronta dengan mengangkat-angkat pantatnya. Tidak lama setelah itu aku mulai menjilati dengan segala macam cara di lembah yang gersang itu, mulai dari kumasukkan lidahku ke lubangnya sampai kuputar-putar di lipatannya yangmembuat Mia semakin meronta bagaikan orang yang kerasukan birahi.

Sekitar 10 menit aku memainkan liang senggamanya, Mia mulai tidak tahan.
“Maaass… akuuu.. maauu.. keluarr… aaahhh… masukin aja pake… batangmu… Mass.., uuuhh… aaahh..!” rontanya sambil mengangkat-angkat terus pantatnya, sedangkan kepalaku masih ditekannya, seakan dia minta jangan dilepaskannya lidahku pada lembahnya.
Aku tidak mempedulikan rintihannya hingga suatu saat, “Seerr… haaahh… haaahh..!” Mia mengelinjang hebat merasakan orgasmenya.

Liang kemaluannya tetap tidak kubiarkan menganggur, aku masih mempermainkan liangnya itu denganjariku. Mia masih meronta. Langsung dia sergap batanganku, dikocoknya dan dikulumnya dengan penuh semangat. Aku sedikit meronta karena seakan Mia membalas perlakuanku padanya.

Akhirnya aku langsung saja merebahkannya dalam posisi telentang, aku mulai membimbing batang kejantananku yang masih tegang hebat itu ke liang senggamanya, dan, “Slepp..!” batanganku sudah masuk penuh.
Ketika rudalku itu masuk penuh, Mia merintih, “Haaahh.. Maaasss.. goyang..!” rintihnya manja.
Kuturuti saja kata-katanya, aku mulai menggoyang pinggulku dan menyodok-nyodok lubang kenikmatannya dengan batang kejantananku. Rintihan demi rintihan bergantian keluar dari mulut kami. Sampai akhirnya Mia semakin menggelenjang tidak menentu, aku tahu kalau dia sudah mau orgasme lagi. Melihat gejala itu, langsung saja kupercepat gerakanku sampai akhirnya, “Serr.. serr.. serr..!” keluarlah cairan kenikmatan itu dari liangnya.

“Stop… Stoop dulu… hhuuhhh… huuhh.. haaahh, jangan.. dicabut Mas..! Biarin aja..” pintanya.
Aku pun tidak mencabut kemaluanku dan seketika kurasakan batang kejantananku dihisap-hisap liang vaginanya, gilaa..! nikmat sekali. Tidak lama kemudian aku dibaringkan ke kasur denganposisi telentang. Kini posisi Mia ada di atas dalam keadaan duduk sambil mengocok batanganku dan membimbing lagi ke arah liang kemaluannya.
“Sleepp..!”
“Oohh.. liangmu enak banget Say..!” kataku.
“Punya kamu juga bikin aku gila Mas..!” katanya sambil menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuhku.

Tanganku tidak diam saja, kuraih payudaranya dan kukulum, kuhisap payudaranya bergantian sambilkumulai meremas bergantian tanpa berhenti. Rontaan Mia semakin hebat dan semakin kelojotan dia. Aku pun mulai tidak tahan, karena posisi inilah yang paling kusukai, karena tangan dan mulutku tidak akan berhenti hinggap di bagian tubuh wanita yang paling kusukai, yaitu payudara.

Setelah sekitar 15 menit kami saling menggenjot birahi, akhirnya rasanya aku tidak dapat lagi menahan keinginanku meledakkan laharku.
“Saayy… aku maauuu keluar Saayy..!” rintihku.
“Tunggu aku Massss… ntar keluarnya aku kocokin aja..!” kata Mia yang membuatku kaget setengah mati dan langsung membayangkan bagaiamana nikmatnya dikocokin tangannya ketika mau orgasme.
Tidak berapa lama kemudian, aku merasakan jepitan pangkal paha Mia semakin keras, dan rontaannya semakin tidak beraturan, sedangkan aku juga sedikit mulai merasakan mau keluar.Seketika batang kemaluanku merasakan adanya cairan yang mengguyur dari dalam rahimnya sambil Mia terlihat kelojotan tidak beraturan.

Aku belum merasakan mau keluar juga saat itu.
“Mia, keluarin aku juga dong..!” pintaku merintih sambil meremas buah dadanya yang ranum itu.
Seketika dia sudah mengocok batang kejantananku dan langsung membasahinya dengan ludahnya,dihisapnya dan dikulumnya layaknya sedang makan es krim. Tidak ada semenit aku sudah menumpahkan air maniku ke lehernya sambil kocokannya terus jalan tidak berhenti. Setelahitu dia membersihkan batang rudalku dengan jilatannya.
“Aku ntar malem pengen lagi ya..?” pintaku.
“Aku juga pengen lagi kok Mass..!” katanya dengan disertai ciuman lembut di bibirku.

Sejak saat itu aku mulai ketagihan hubungan seks dan kami berdua tidak pernah sungkan-sungkan lagi kalau lagi ingin melakukan hubungan seks. Pernah kami melakukannya sehari tiga kali. Bahkan kami pernah hanya melakukan 10 hari dengan oral seks saja, mengingat saat itu Mia baru menstruasi.

Namun petualngan seksku belum berhenti sampai disitu. Pernah suatu ketika, permainan hubungan seks kami diintip Ibu kost Mia dan dua orang teman kost-nya. Hingga saat Mia sudah lulus dan kembali ke kota asalnya, aku masih tetap main ke kost Mia karena setelah kepergian Mia, aku jadi simpanan Ibu kost Mia dan seorang teman kost Mia yang juga pernah mengintip kami melakukan hubungan seks itu sampai sekarang. Aku jadi benar-benar ketagihan sampai sekarang.




Sumber
readmore »»  

Cerita Dewasa Kenikmatan Dengan Mantan Pacar Di Hotel Berbintang

Cerita dewasa mesum ini merupakan hal yang baru saja aku tulis tentang cerita dewasa yang pernah aku lakukan pada pertengahan 2010 kemaren dengan mantan pacarku. Cerita mesum ini juga resmi aku tulis karena ku ingin berbagi saja dengan teman semuanya yang sangat suka dengan hal seperti ini. Selain itu dengan membaca cerita kali ini mungkin akan membuat kalian bisa menjadi lebih terbawa dengan suasana di dalamnya karena sangat bagus sekali. Mari saya gak banyakan ngomong langsung saja kira denganrkan bagaimana isi dari semuanya ini… :D Perkenalkan Nama gue Prasetya panggil saja Pras (27 thn),di forum ini gue berbagi kisah cinta gue yg nyata (real story) gue alamin sendiri. kisah ini bermula dari account FB baru yang ku buat.Perkenalan gue dengan Sari (25 thn) sebenarnya sudah sejak 8 tahun yang lalu,saat itu sari adalah pacar teman gue Ikhsan (29 thn). Namun sempat putus komunikasi dan akhirnya bertemu lagi di dunia maya lewat jejaring pertemanan Facebook beberapa tahun yang lalu.
Kisah ini terjadi kurang lebih 2 thn yang lalu. Tepatnya awal bulan Juni 2010.Sari sebenarnya sudah mempunyai Suami yang kebetulan dia bekerja sebagai kordinator keamanan gedung MPR/DPR.Sari menikah muda tubuhnya tampak bagus dan terawat. Sari mempunyai wajah yang cantik dengan rambut sebahu. Kulitnya putih bersih. Selain itu yang membuatku selama ini terpesona adalah payudara Sari yang luar biasa montok. Perkiraanku payudaranya berukuran 36B.
Malam menjelang pagi aku OL via FB di rumah dan kebetulan saat itu Sari juga sedang OL di waktu yang bersamaan,akhirnya terbangun komunikasi yang baik antara aku dengan sari. Hal ini terus menerus terjadi dan sepertinya sudah ada kesepakatan waktu di antara kita setiap kira2 jam 1 kita berkomunikasi OL via FB,tak jarang di lakukan di saat suami sari sedang tertidur pulas.
Singkat cerita,…dari hasil komunikasi yang terus kita lakukan…kita sepakat untuk kopi darat bertemu janjian untuk karaokean bareng.
awalnya gue tak ada niat macam-macam ataupun aneh-aneh(ya gimana perempuan sudah bersuami…)Pada saat itu kita janjian bertemu di salah satu Mall di daerah Jakarta Barat,selepas pulang kerja.Ketika bertemu Sari membuat gue salah tingkah,Oh My God(kataku dalam hati…Ternyata dia makin cantik dan sexy dengan pakaian kemeja kerja dengan rok di atas lutut dengan rambut panjang lurus diurai yg jatuhnya pas banget di payudara montoknya yg mengintip karena kancing yg terlepas dua. Lihat gue merhatiin dia, diapun senyum…
Gue : Sar,wow banget ya lu sekarang…gue memang dari dulu terkenal suka menebar pesona…so gue pikir bahasa itu biasa di dengar oleh sari
Sari : hahahaaa,…biasa aja kali Pras. Ga berubah lu mach suka bikin GeER perempuan aja.
Gue : Jiah,..ini serius Sar.
Sari : Udah,..ach jangan di terusin.(dengan wajah malu dan menunduk)
Gue : Jiah,…ga usa grogi kali.SLOW aja ..gue tau koO lu skrng uda punya suami.

Kami pun berbasa-basi, saling menanyakan kabar masing-masing. Karena memang kita sudah lama tidak ketemu.
Suasana yang terjadi memang cukup akrab,kami pun karaoke selama 2 jam…Namun ada kejadian menarik di dalam ruangan karaoke itu,Ketika itu memang kita berdua memesan minuman bir hitam 1 pitcher…mungkin karena terpengaruh suasana dan alkohol membuat suasana semakin tak ada jarak lagi.kita bernyanyi melepaskan suara sekencang-kencangnya.Dan nampaknya sari pun terlarut dalam suasana itu.
sesekali ngobrol2.. doi curhat masalah Suami nya..gue sih seneng2 aja dengerin doi cerita.. doi cerita tentang suaminya yang cuek,kaku dan ga peduli ama doi.. (maklum suaminya berbeda usia 7 tahun lebih tua dari sari) bahkan sari juga berani cerita kalo kehidupan rumah tangganya ga harmonis,sering ribut dan ampe sekarang belum punya anak padahal usia perkawinan mereka sudah mpir 4 tahun.

trus gue pancing aja “trus lo uda lama dong ga dapet jatah gara2 ribut mulu ama suami lo ya sar?” sari bilang ” iya nih, rasanya uda lama banget..pengen deh begituan”…. wuduuuh dalam hati gw.. INI KESEMPATAN..!!”..Cuma bingung juga sich gue gmn memulainya…
akhirnya gue coba beraniin aja”Lain kali kalo kesepian kabarin gue atueh bu,…kali aja bisa gue bantu-bantu…” (sembari bercanda..cos takut nanti sari tersinggung)
Ech ternyata sari menyambutnya dengan Dia menarik gue kedalam pelukannya dan ciuman lembut mendarat ke bibirku.Belom sempat aku menikmati, suara Telp dari HP nya berbunyi…dan sari berlari keluar ruangan karaoke tergesa-gesa.gue pikir itu pasti dari suaminya.Tidak lama sekitar 5 menit sari kembali masuk ke dalam ruangan,gue bingung pada saat itu cos gue ga tau apa maksudnya sari tiba-tiba dia cium gue tadi…ehmm…gue berharap suasana kembali cair ga kaku.Cuma gue ga sadar ternyata Kontol gue uda tegang dan keras banget… dan ternyata sari memperhatikan itu,”Pras,knp kontol lu tuh,hahahaa (dia tertawa seolah-olah mencelaku)…”
Gue : heheee…iya nich Sar,konectnya cepet maklum sinyalnya bagus sich (gue coba membawa dengan candaan pula…)
Sari : makanya cepetan kawin,dong.. biar kontol lu bisa cepet ketemu musuhnya.hahahaaa…….
Gue : Sial,lu Sar…
Sari : Mang lu pengen juga ya Pras…?
Gue : (waduch,…pertanyaan yang cukup berani nich) Ya kalo pengen sich ,..pengen banget…tapi gmn ya…gue ikut mau lu aja dech sekarang juga siap,disini juga oke sar.
Sari : hahahaaa… DASAR GENIT
“Pras, jangan disini deh, gak enak kalo ktauan”… kita nginep aja yuk,sambut gue sembari bercanda “Ya udah ketempat gue ja yuk,Pras”… “Ngapain sar”. “Kan ada suami lu?”..sari dengan santai menjawab “Tenang aja,waktu berpihak buat kita malam ini…suami gw lembur.biasanya doi kalo lembur suka nginep di kantor baru pulangnya besok pagi jam 6..” gue nurut ja ktika dia ngegandeng balik ke mobilnya.. ya gue juga pengen juga si ngrasain maen ma dia. . “serius nich sar,lu mo bawa gue ke rumah lu…?” …”Ya,Hitung-hitung Nemenin gue di rumah lah Pras,…”jawab sari.
“Ga,masalah khan Pras,kalo lu ga pulang malam ini…??Lu ga terganggu khan??”tanyanya,” Ya ga Lah,paling yang terganggu adik gue sar”kataku lagi. “O, lu tinggal ama adik ya Pras”, jawabnya gak mengerti. “Sendiri sih,adik yang kecil yang terganggu, pengen berontak kalo ngeliat cewek montok kaya lue,sar”, jawabku sambil tsenyum. “Ih dasar, genit”, katanya lagi.
Rumahnya ada dikomplek perumahan mewah, tapi rumahnya gak besar2 amat seperti yang ada di jalan utamanya…gue diajaknya masuk setelah dia ngunci pintu pager. Suasana di ruang tamu dibuat seolah-olah sunyi dgn hanya menghidupkan lampu kecil saja. Suasananya berubah jadi rada romantis…”Pras,silahkan duduk dulu ya..kalo mau minum ambil aja langsung di kulkas ada softdrink juga koO…gue ganti baju…”
Doi pergi meninggalkan gue,masuk ke dalam kamarnya.
Doi kembali keluar dari kamar mengenakan sarung bali dan tanktop saja.
gue duduk di sofa, doi menghampiri gue dan duduk disebelahku…
langsung saja gue sambut dengan memeluk pundaknya. Sarung balinya agak terangkat sehingga pahanya yang putih terlihat dan langsung kucium bibirnya. Dia mendorongku, “eit sabar dulu dong.. udah napsu banget ya lu,…hahahaa sabar dikit pak”canda doi “Iya nih”, jawabku sambil kembali melumat bibirnya. sari pun membalas dengan memainkan lidahnya, sesekali sari menghisap lidah gue. Tangan gue pun mulai aktif memainkan toketnya, dan mulai menciumi lehernya. “shhh..uhfff..terus pak..enak banget”, desahnya. Sepertinya dia sudah pengalaman urusan begituan, padahal umurnya masih muda… Kumasukkan tanganku kedalam tanktopnya dan ternyata dia tidak pake BH. kuremas-remas kedua toketnya. Dia nampak sangat menikmatinya, tangannya mengelus-elus kepalaku dan mulutnya mengeluarkan desahan desahan kenikmatan. Kulepaskan tanktop serta sarung balinya dan kini dia telah bugil karena dia juga sudah tidak mengenakan cd. Doi pun juga melepaskan baju dan celana pendek serta cd ku. “Wow gede banget kontol lu Pras, ga muat nih masuk nonok Gw Pras”, katanya sambil mengelus-ngelus kontolku. “Lebih gede mana kontolku atau kontol suamimu?” tanyaku. “Ya,Kayanya sich masih gedean kontol lu ini…wow gw ngeliatnya Pras”, jwbnya.”Tapi pengen ngerasain kontol gue ga Sar”, jwbku mendesaknya. “Iya sih. Gue berapa kali dientot ama suami gue. kontol lu jauh lbh gede, gue malah takut ntar nonok gue jadi longgar kalo sering kemasukan kontol segede ini”, jawabnya, sementara itu tangannya masih mengelus-elus kontolku. Dia pun tersenyum dan langsung melumat bibir ku, aku pun membalas dengan hangat dan kumainkan itilnya dengan jari-jariku. “Shhh…uhffff.”, erangnya. Kini kujilat pentil toketnya. “Shhh…oh..ouchhh enak banget pak, terus pak, gak tahan nih”, kembali dia mendesah.
“Sar, gue lepasin ya sarung lu”, kembali gak nunggu persetujuanNYa, gue buka sarung balinya…Doi mengangkat pantatNya untuk mempermudah gue melepasnya. Tinggallah doi pake cd yang tipis. jembutku berbayang di cd tipis yang mulai basah itu. gue elus2 terus belahan nonok nya dari luar cd. Cd nya makin basah, gue dah sangat bernapsu. doi hanya menggeliat2 saja, dan melenguh2 keenakan menikmati aktivitas tangan gue pada dada dan selangkangan nya. “Sar, lu dah napsu ya, cd lu dah basah begini. gue lepas ya”. Gue segera menarik cd ke bawah. Sekali lagi doi mengangkat pantatnya sehingga meluncurlah cdnya meninggalkan tubuhnya yang montok. Skrg doi sdh bertelanjang bulat didepan gue.Tubuhnya yang putih dengan toket yang besar dan masih kencang sekali, pentil kecil yang dah mengeras dan sekumpulan jembut berbentuk segitiga yang puncaknya mengarah ke nonoknya.”Pras, terusin dikamar aja yuk”, dia menggandeng tanganku dan menariknya ke kamar.
segera gue baringkan di ranjang dan segera gue melepaskan semua yang melekat dibadan.
gue pun maju kedepan sehingga kontol gue kini berada didepan bibirnya. gue tarik kepalanya sehingga kontol gue kini menempel dibibirnya. Dia membuka mulutnya dan gue dorong kontol pelan pelan sehingga kontol gue masuk setengah. Dia pun mengulumnya, mulutnya memompa kontol gue.”Ouhhh nikmat banget sar, terusin isep yang kuat kontolku”,kini gantian gue yang mendesah. Dia pun melepaskan kontolku dan menyuruhku berbaring di ranjang.”Pras berbaring aja,biar gue isep,kontol lu enak banget,Pras”, kini dia asik mengulum kontol dengan ganasnya dan tangannya memainkan biji pelirku. “Ouhh..Sari enak banget, terus, kocok terus kontol gue pake mulut lu”, gue mendesah saking nikmatnya. Dia melanjutkan mengulum kontol gue.
Kemudian gue menghentikan aktivitasnya, dia gue baringkan di sofa dan gue mulai menjilati itilnya lagi. Dia kembali berteriak2 minta segera dientot. gue gendong dia dan gue letakkan dia dikasur dan gue menindihnya. gue memainkan kontol gue di bibir nonoknya. “shhhh..ouhhh masukin dong Pras,cepet sari uda ga tahan nih”, pintanya. Gue pun memasukkan kontol gue pelan-pelan…agak susah walaupun nonoknya sudah sangat becek. “Dorong yang dalem pras, kontol lu enak banget, terus Praasss..”, kembali dia mendesah. Bles…. kontol gue masuk semua kedalam nonoknya. gue pun mulai memompa. “ouh..hhshhhh…uhfff..terus, entot terus nonok Sari”., desahnya lagi. “Enak gak kontol gue, mana lebih enak kontol gue atau kontolnya suami lu,sar”, tanyaku. “kontol lu lebih enak, gede banget, terus pras, entot terus, tusuk yang dalem nonok sari,pras…please jangan berhenti”, jawabnya sambil bergerak tidak teratur menahan nikmat. “Terus pak, Sari mau nyampe nihh, entot terus nonok Sari, terus…ouhhhh…gue nyampe pak”, jeritnya sambil menggelepar. kontol gue serasa dijepit dan kemudian terasa hangat karena cairan kenikmatannnya. Gue pun terus memompa nonoknya yang sudah sangat becek. Clep..clep terdengar bunyi dari nonoknya yang terus ku pompa. “sar, nonok lu enak banget, gue entot terus ya…kontol gue rasanya ga mau lepas”, kataku. “entot terus nonok sari pras, enak banget, terus pras, kontol lu perkasa banget”, desahnya berulang2. Dia pun mengoyangkan pingulnya mengikuti irama kontolku, tampaknya napsunya telah bangkit kembali. Gue tekuk kakinya kedepan sehingga kontol gue lebih leluasa menerobos nonoknya. “oh nikmat banget pak, kontol lue masuk dalam banget, terus pak, entot yang kuat nonok gue, nikmatin sepuas lu Praaass..ouhhhh…uhfff”, desahnya lagi. “Pras, gue mau nyampe lagi nihh….terus pak, yang kenceng, kontol lu enak pak”. Gue pun mempercepat goyangan dan sekali lagi tubuhnya kembali mengejang dan menumpahkan cairan kenikmatan.

Kucabut kontolku…dan kulihat nonoknya nampak merah dan cairan kenikmatannya keluar membasahi kasur. “Sari cape banget pras, ternyata lu hebat muasin wanita.”, katanya lemes. Gue pun melumat bibirnya dengan nafsu. “sar, isep kontol gue lagi dong”, pintaku. Walaupun lemes, dia mulai mengulum kontol gue lagi.”Pras kok lu kuat banget sihhh, mulai tadi belum keluar, Gue aja udah 2 kali”, katanya sambil mengocok kontolku, kemudian kembali diemutnya. Gue hanya tersenyum, “terus sar, kuluman lu juga enak banget, isep yang kuat kontol gue”. Dia pun dengan ganas mengulum kontolku. Pras, entot Gue lagi ya, sekarang ya, Gue ga tahan nihhh, kontol lu gede banget…nonok gue udah gatel nih pengen rasain lagi kontol lu lagi”, pintanya. Luar biasa napsunya, katanya udah lemes tapi masih minta dientot lagi.

Gue pun menyuruhnya menungging ala dogy style, gue dorong pelan-pelan kontol gue sampai amblas kedalam. “ouh…nikmat banget kontolnya, terus pras, terus goyang”, pintanya. gue pompa terus nonok nya. Kembali dia mendesah2, “Pak, enak banget, shhhh..uhff….entot terus pak, entot gue terus pak, gue suka dientot ama lu pras”. Dia mulai meracau tidak karuan. Gue hanya diam karena sedang berkonsentrasi mengkontoli nonoknya. “Pak, Gue mau keluar nih, terus pak, entot terus….ouh.”. Cret..cret..cret..terasa kontolku disiram oleh cairan cintanya. Gue pun terus memompanya karena Gue belum apa-apa. “Enak sar kontol gue”, tanyaku. “Enak banget pras, entot terus nonok gue, terus ya pras”, jawabnya sambil memutar-mutar pingulnya sehingga kontolku serasa terpilin-pilin. “Terus Sar..gue mau ngecret nih…enak banget”, giliranku yang mendesah. “Iya Pras, Gue juga mau keluar lagi, entot yang kenceng nonok gue Pras,teken terus aja Pras”, jawabnya mendesah juga. “Ngecretin dimana Sar”, tanyaku. “Ngecretin didalam aja, gue pengen ngerasin peju lu Pras”, jawabnya.Gue pun menggenjot dengan cepat nonoknya. “Sari keluar lagi nih pras…ouh…aahhhh”, dan akhirnya , “Gue juga sar…..ouhhhhh”. Cret..cret..cret Gue pun menumpahkan pejuku didalam nonoknya sambil kupompa pelan-pelan. Peju gue sebagian keluar lewat bibir nonoknya. “Enak banget di entot sama lu pras…uhfff…gue cape banget”, katanya kembali lemes. Gue pun mencabut kontol gue, Sari pun tersenyum manis dan dengan lahap mengulum kontol ku yang masih lemas, dia memasukkan semua kontolku sampai kemulutnya dan menghisapnya. Kurasakan lidahnya bermain diujung kontolku. “ohhh nikmat banget sar…terus, kontol gue mulai bangun nih”. kontol gue pun mulai tegang kembali, sari mengulumnya dengan lembut seperti sedang menikmati lolypop. “Cepet juga nih ngacengnya”, katanya. “Isep terus ya..isepan lu enak banget”, jawab gue terengah. sari pun meghisap kontolku sambil lidahnya menggelitik ujungnya.
Hampir sepuluh menit dia menghisap kontolgue, “masukin lagi ya pras, Gue udah ga tahan nih liat kontol lu pras”. Sari pun jongkok diatas kontol gue dan mengarahkan kontol gue kenonoknya. Pelan-pelan tapi pasti dia menurunkun pantatnya.gue lihat rona mukanya yang memerah menahan nikmat yang diberikan oleh kontol gue. “ouh…kontol lue kok bisa gede banget sih, kayanya sampe ke rahim gue deh”. Sari pun mulai menggoyang pinggulnya seperti inul sedang goyang ngebor. “ouhh sar, enak banget, terus”, kontol gw serasa di pijat sementara tangan gue meremas toketnya dengan kuat menahan rasa nikmat. “oh pras..kontol lu enak banget …remas yang kuat toket gue,pras”. Gue pun meremas toketnya dengan kuat dan menggoyang pinggul gue.
“Nikmat banget pras.gue uda mau nyampe nih….terus”, dia pun meremas tangan gue yang berada ditoketnya,sepertinya dia sedang menahan sesuatu yang sangat nikmat dan kepalanya menengadah keatas. “ouhhhh….Sari keluar lagi pras,sayang nikmat banget…..uhffff”. Cairan cintanya pun mengalir dikontol gue dan membasahi jembut. Dia pun menunduk mencium bibir ku sementara kontol gue masih berada dinonoknya. “Pras, nikmat banget deh, sari capek banget nih”.Kamu hebat banget ya Pras,..gw Habis ama lu malam ini…sumpah lemes banget gue,enak banget Pras…”
Akhirnya sari pun tertidur lemas,…sebenarnya sich gue belum puas tapi ya gimana lah setidaknya gue mampu menaklukan sari malam ini,dan merasakan nikmat nonoknya dia…

“Gimana , puas?” tanya gue. “Gila gue puas banget Pras,..lu mang mantap banget entotin sampe kelenger, kuat banget sih lu pras”. “lu suka kan gue entot,sar?? kapan2 kalo ada kesempatan mau enggak ngentot lagi ama gue,sar?”.. “Mau banget…pras,justru kayanya gue bakalan nagih nich”jawabnya “Lu seksi deh sar”…”Makasih ya sayang,…sari sayang kamu Pras..sari kalo pengen lagi lu masih mau entot sari lagi khan pras..??kita habiskan malam berdua lagi ya pras??”Demikianlah kenikmatan malem itu berakhir. Setelah mandi dan sarapan, gue dianternya balik ke kos,gue tuker baju dan lalu istirahat …

seminggu kemudian gue janjian lagi …maen lagi kali ini mainnya di kos-an gue…
Dan itu terus berlangsung sampai akhirnya bulan november kemarin,dia pindah rumah ke Serang ikut suaminya pindah dinas kerjaan di Provinsi Banten…




Sumber
readmore »»  

Cerita dewasa Cewek Model Kampus Ku perkosa

Cerita dewasa ini adalah salah satu cerita mesum yang di alami oleh lisa ketika menjadi salah satu model di kampus terkenal di kota dia. Memang hal ini adalah suatu kejadian nyata yang dialami lisa ketika mau menjadi salah satu model kampus. Karena aku adalah salah satu cewek paling cantik dan manis jadi aku di ikutkan untuk menjadi salah satu model di kampusku namun itu menjadi sebuah hal buruk bagiku. Begini ceritanya, Lisa baru saja selesai mandi pagi, tubuhnya kini terasa segar. Senin pagi ini ia harus menemui pak benny ketua jurusan fakultas hukum di kampusnya. Dia berusaha memakai pakaian serapih mungkin, diluar kebiasaanya setiap ke kampus yg selalu memakai pakaian casual.
Lisa sudah menduga cepat atau lambat ia akan dipanggil oleh fihak kampus berkaitan dengan gambar gambarnya yg dimuat di subuah majalah khusus pria.

biaya kuliah saat ini sangat mahal, apalagi usaha orang tuanya agak tersendat sehingga otomatis aliran uang pun tersendat. Beruntung seorang kawan menawarinya pekerjaan menjadi model di sebuah majalah khusus pria dewasa, syaratnya tentu saja harus berani tampil hot.
Lisa menerima tawaran itu dan gambarnya pun kerap menghiasi majalah pria dewasa, uang yg diterima nya pun cukup lumayan. Namun meski begitu, tetap saja penghasilannya belum cukup memenuhi seluruh kebutuhan hidup dan kuliahnya , oleh karena itu di waktu luang ia juga menjadi “escort”.

Lisa bercermin untuk terakhir kalinya, mengagumi tubuhnya sendiri, rambut panjang , body ideal dan buah dada yg membanggakan. Lisa tak pernah memakai make up berlebih , ia mempunyai kecantikan alami , kecantikan yg banyak membuat mata para lelaki terbelalak. hari ini lisa sengaja memakairok hitam diatas lutut dan blouse putih yg ketat mencetak buah dadanya.

DIa tiba di ruang ketua jurusan sedikit terlambat akibat macet. Lisa mengetuk pintu dan masuk , ia sedikit terkejut karena selain pak benny , disana ada pak lukas pembantu rektor, dan pak aris dosen di fak hukum.
di meja kerja pak benny tergeletak majalah dewasa yg memuat gambar gambar panas lisa yg semi nude.
Lisa sedikit panik, karena ia tak menyangka harus bertemu tiga orang itu, tadinya ia akan sedikit “merayu” ketua jurusan seandainya ia akan kena sanksi ..tapi sekarang..?

“silakan duduk ” kata pak benny
“pagi pak…” jawab lisa dan duduk

“lisa…kamu dipanggil kemari sehubungan dengan gambar kamu yg dimuat di majalah ini , kamu tahu ini bisa mencoreng nama baik kampus ini..” kata pak benny.

“tapi pak…gambar ini punya estetika seninya , bukan gambar tabloid murahan..apalagi majalah ini punya reputasi yang bagus…” lisa membela diri

“meski begitu bukan berarti kamu bisa bebas seperti ini , ingat reputasi terhormat kampus kita, apalagi dimana kamu kuliah tertulis jelas disitu.” kata pak lukas

lisa menyadari bahwa percuma ia berdebat , ia pasti kalah. namun ia tetap mencari cara bagaimana ia bisa keluar dari masalah ini. Lisa berusaha menarik simpati mereka.

“maaf pak…sekarang ekonomi keluarga saya sedang bermasalah, sementara kebutuhan saya banyak terutama untuk membayar uang kuliah pak…” kata lisa sedikit memelas.

“tapi kan kamu bisa bilang…atau setidaknya mengajukan permohonan beasiswa…” kata pak aris
“maaf lisa, namun demi nama baik kampus kita ..kamu bisa saja kami keluarkan ” kata pak benny kemudian.

Lisa sedikit panik , ia sudah setngah jalan di fakultas hukum, ia tak mau jika harus berhenti di tengah jalan, dan menyia nyiakan tahun tahunnya.

“aduh…pak…tolong..saya mohon kebijaksanaannya……saya siap melakukan apa saja pak…” kata lisa

ruangan itu mendadak sunyi. Lisa kemudian menyesali ucapannya , ia bisa merasakan ketiga mata lelaki itu memandanginya dengan penuh minat, keringat dingin keluar dari dahi lisa.

“kita bisa mempertimbangkannya kembali kok lisa..tapi tentu saja sesuai kata kata kamu…kamu harus melakukan sesuatu”

“maksud bapak…?” lisa mulai meduga apa yg ada di balik otak dosennya itu
“kamu terlihat sangat berbakat di majalah ini..sekarang….seberapa jauh kamu bisa memanfaatkan “bakat” kamu itu untuk menolong kuliah kamu….” kata pak benny sambil tersenyum nakal

Lisa mengerti maksud perkataan itu , ia memang tak punya banyak pilihan , namun ia juga sedikit enggan harus melayani ketiga dosen bejadnya ini.

“saya mengerti pak..tapi saya juga punya syarat..semuanya hanya dilakukan hari ini , di tempat ini dan tidak berlanjut ke hari atau waktu lain..” kata lisa

ketiga orang itu terlihat ragu , mereka saling memandang. Lisa tahu ia harus memanfaatkan keraguan mereka. Lisa pun berpindah tempat duduk ke sofa, disana ia sengaja memamerkan pahanya yg mulus, membuat ketiga pria ia itu menelan ludah.

“bagaimana pak setuju…..?” kata lisa sambil membuka dua kancing blousenya dan menyibakan rambutnya ke belakang.

Pak benny org pertama yg menghampiri lisa, celananya terlihat menggembung. Pak benny kemudian berlutut diantara kaki lisa. Lisa menyambutnya dengan melebarkan kakinya , ia membiarkan tangan pak benny menyusuri kaki dan pahanya sampai ke pangkal paha.

Pak lukas menyusul mendekati lisa, dengan sedikit kasar ia meremas buah dada lisa dan mencubit putingnya. sementara pak benny melepaskan rok mini dan Cd lisa, ia terpana melihat keindahan vagina lisa yg tertutup sedikit rambut halus. Pak benny mendorong lisa agar berbaring di sofa untuk kemudian ia menjilati vagina lisa penuh nafsu dengan jilatan yang hangat dan basah

“kamu cantik sekali lisa….” kata pak lukas sambil melepas blouse lisa dan branya
“dan ingat kamu harus melakukan apa saja hari ini sesuai perintah kami..” kata pak lukas kemudian

Lisa kembali berkeringat dingin , kata kata pak lukas membuatnya berpikir , apakah ada yg lebih buruk dripada harus melayani nafsu bejad ketiga dosennya ini..?
“tapi…aahh..” lisa tak dapat melanjutkan kata katanya, ketika pak lukas menyedot buah dadanay dengan kasar, sementara buah dada satunya jadi mainan pak aris.

serangan bersamaan pada tubuhnya menimbulkan efek yg luar biasa bagi lisa, ini pertama kalinya ia harus melayani tiga pria sekaligus. lisa merasakan ada sesuatu dalam tubuhnya yg siap meledak.
sementara bagai kelaparan pak benny masih menjilati vagina lisa , tak lama kemudian lisa merasakan sesuatu yg hangat dan basah mengalir diantara kakinya, dan tubuhnya seolah kehilangan tenaga

rasa geli dan nikmat muncul ketika pak lukas menjilati seluruh tubuh lisa, dari leher sampai perut, tangannya tak lepas dari buah dada lisa. Lisa mencoba menikmati dan meresapi semua rangsangan yg ia dapatkan dari tiga org ini.

perlahan tapi pasti jilatan jilatan pak benny membuat lisa mencapai kembali orgasme,

“aahh..ahhhh…pak…aauhhhh….” rintih lisa tubuhnya kembali melemas

belum sempat lisa mengumpulkan tenaga, tiba tiba pak benny bekata

“yahh..belum apa apa udah lemes…..sekarang kan baru kita mau mulai…”

lisa terkejut melihat penis pak benny saat ia melepas celananya. besar dan panjang menegang, ia khawatir tak snggup menghadapinya, ia menggeleng dan sedikit protes..

“nanti dulu pak…bentar..saya masih lemas……bentar lagi…”

‘hehehe..ingat perjanjiannya kan…..? apalgi kamu bilang harus hari ini dan saat ini juga..hehehe…siap atau enggak ya harus mau… hehehe..” kata pak benny tak mempedulikan perotes lisa, lalu memasukan penisnya ke vagina lisa, setiap inchi penis pak benny masuk sebuah kesakitan dirasakan lisa, yg walau bukan virgin namun vaginanya masih sempit.
Lisa mengerang saat kepala penis menerobos masuk, namun ia sedikit tertolong oleh cairan yg keluar akibat rangsangan sebelumnya. Setelah beberapa lama . penis pak benny terlihat terbenam di dalam vagina lisa, ia menggeram puas, ia kemudian mengatur posisi untuk siap menggenjot tubuh lisa

Lisa menangis kesakitan saat gigi pak aris menggigit buah dadanya sampai lecet, namun belum juga penderitaannya berakhir pak lukas ikut ikutan menggigit buah dada lisa yg satunya, hingga kedua buah dadanya menjadi lecet

“awww..sakit…jangan..kasar kasar..pak…tolong…..” ucap lisa kesakitan

mereka berdua malah menjilati dan menyedot buah dada lisa tepat dilkukanya, membuat lisa menangis kesakitan.

menahan sakit lisa menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, ia menyesali perkataanya tadi . ia tak sengaja bicara seperti itu, bahwa ia siap melakukan apa saja. sedikit kesadaran membuatnya ia tiba tiba berontak.

Dengan penis yg masih menancap di vagina lisa, benny berkata

‘eeitt..mo kemana sayang….ingat kamu berjanji memberikan bakat kamu ke kita bertiga hehehehe…”
lisa lemas tak berdaya, ia hanya bisa pasrah sekarang, ia tak menyangka akan menjadi begini.
Penderitaan lisa makin bertambah saat tiba tiba pak benny mempercepat genjotannya, vagina lisa terasa sangat sakit harus menerima beban di luar kapasitasnya.
menit demi menit berlalu , menit menit penuh kesakitan bagi lisa.

diantara rasa sakit lisa merasakan cairan hangat mengalir diantara kakinya, sebentar lagi akan mencapai orgasme, pak lukas dan pak aris sudah melepaskan mulutnya dari buah dada lisa, namun mereka masih tetap meremas remas buah dada lisa yg terlihat sudah memar dan lecet.

tiba tiba, pak benny mencabut penisnya dari vagina lisa, sambil tiba tiba membalikan tubuh lisa.
tanpa basa basi lagi ia menusukan penisnya ke anus lisa.
lisa tak sempat menjerit karena, mulutnya telah disumpal oleh penis pak lukas

dengan menahan sakit ia juga harus mengocok penis pak lukas dengan mulutnya, akhirnya karena tak tahan kesakitan lisa akhirnya tak sadarkan diri.
entah berapa lama lisa pingsan namun ketika sadarkan diri , rasa sakit itu belum hilang , bahkan penis pak aris kini sedang menancap di vaginanya, di buah dadanya terasa cairan putih kental juga di mulutnya.

“hehehe…..sudah bangun sayang……tenang sebntar lagi bapak selesai kok..” kata pak aris.

lisa agak sedikit lega sampai tiba tiba pak lukas berkata,

“setelah ini kamu harus melayani kita bertiga sekaligus…..kalo sampe pingsan…kita akan panggil engkus satpam kampus untuk menikmati tubuh kamu juga ..hahahahah…”

lisa terdiam lemas , lelah tak berdaya berharap hari ini cepat berlalu.




Sumber
readmore »»